Transformasi Filantropi Islam, Mengubah Narasi Menjadi Aksi Iklim

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
147
Hidayat Tri Sutardjo

Hidayat Tri Sutardjo

Oleh: Hidayat Tri Sutardjo (Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah)

Krisis iklim saat ini sudah menjadi nyata, realitas masa kini yang telah mengancam kehidupan masyarakat. Dari banjir yang melumpuhkan Sumatera hingga ancaman kekeringan di depan mata yang berdampak pada ketahanan pangan, krisis iklim adalah alarm keras bagi manusia.

Kenaikan suhu satu derajat bukan angka yang kecil, karena Ia mampu memicu kerusakan masif. Dari mencairnya es di kutub hingga naiknya muka air laut yang mengancam pesisir kita. Godzilla El Nino juga bukan sekadar ancaman kekeringan dan panas. Ia menjadi pengingat tentang kerentanan kita akan ketahanan pangan. Lahan pertanian terancam, produksi panen menurun, hingga fluktuasi harga komoditas pangan.

Dampaknya bukan hanya pada perut masyarakat yang kelaparan, akses kualitas pangan yang sulit akhirnya juga berdampak pada kesehatan secara luas. Rakyat kecil dan kelompok rentan akan menjadi korban pertama hal ini, ancaman krisis kesehatan akhirnya juga ada di depan mata.

Menghadapi berbagai persoalan ini kita tidak bisa berdiri sendiri. Kompleks dan masifnya persoalan ini membutuhkan gerakan kolaboratif yang radikal, kita harus bermitigasi bersama-sama saat ini dengan kekuatan yang ada, atau membiarkan masa depan hanyut bersama bencana yang kita bisa antisipasi.

Raksasa yang Tertidur
Indonesia merupakan negara dengan penduduk umat muslim terbesar di dunia. Selama ini umat Muslim selalu menjadi korban dampak krisis iklim, korban jiwa hingga infrastruktur yang luluh lantak.

Namun, umat Islam bukan tanpa daya. Umat Islam memiliki instrumen raksasa yang belum banyak dilirik untuk mengatasi krisis iklim, yakni masjid dan organisasi keagamaan. Modal sosial yang masif dan bisa menjadi pusat untuk mitigasi krisis iklim.

Dalam Islam, telah sarat dengan perintah untuk menjaga alam (muhafazah al-bi’ah). Konsep khalifah (pemimpin yang menjaga bumi), mizan (keseimbangan ekologis), dan larangan israf (berlebih-lebihan, termasuk dalam eksploitasi sumber daya alam) adalah fondasi kokoh bagi aksi iklim. Pesan-pesan ini menjadi jarang menjadi fokus gerakan filantropi Islam. Karena para nazhir, amil, dan pengelola dana umat lebih nyaman dengan program yang “kasat mata” dan memiliki tingkat keberhasilan yang cepat.

Umat Islam di Indonesia tengah duduk di atas potensi kekuatan yang belum dimaksimalkan. Dari jaringan 800.000 masjid, 42.000 pesantren, dan jutaan anggota organisasi raksasa seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), Islam memiliki infrastruktur yang mengakar luas dan dalam hingga ke seluruh pelosok Indonesia.

Namun, potensi ini tidak boleh hanya menjadi data di atas kertas. Semuanya harus disinergikan agar tidak berhenti bergerak di zona nyaman, saatnya mengubah infrastruktur keagamaan ini menjadi solusi terdepan dalam mengatasi krisis iklim.

Di tengah krisis iklim yang mengancam, sudah saatnya kita melakukan transformasi besar. Dari sekadar berbagi rasa menjadi gerakan kolektif menyelamatkan bumi. Filantropi Islam dapat menjawab, bukan dengan kata-kata, tetapi tindakan nyata yang hijau, berkelanjutan, dan penuh berkah.

Filantropi Islam yang telah terbukti tangguh dalam mengentaskan kemiskinan dan bencana sosial, kini harus naik kelas. Saatnya mengubah narasi lama yang pasif menjadi aksi iklim yang proaktif. Saatnya zakat, infak, sedekah, dan wakaf tidak hanya menyelamatkan jiwa di dunia tetapi juga bumi tempat berpijak, menjadi amal yang pahalanya terus mengalir sepanjang hayat.

Filantropi Islam juga memiliki potensi yang besar, zakat dengan angka yang fantastis mencapai Rp327 triliun, wakaf dengan 451.000 titik dengan nilai Rp180 triliun, hingga green sukuk dan cash waqf linked sukuk (CWLS) yang bisa digunakan untuk mendanai proyek hijau yang selama ini terkendala biaya.

Potensi yang besar tentu juga memiliki tantangan yang tidak mudah. Pertama, yakni perdebatan tentang dana filantropi untuk aksi iklim. Kedua terkait sumber daya manusia di lembaga filantropi yang memerlukan pembelajaran manajemen terkait pendanaan program hijau. Terakhir yakni masih tersebarnya dana ZIS (zakat, infak, dan sedekah) di berbagai lembaga tanpa koordinasi dan integrasi yang jelas. Karenanya diperlukan tata kelola yang bisa menjawab tantangan itu, memberikan literasi, transparansi, dan sinkronisasi yang terukur dan terintegrasi.

Transformasi dalam filantropi Islam menjadi hal yang mendesak. Paradigma lama yang memandang bantuan sosial sebagai pemadam kebakaran jangka pendek harus mulai dialihkan pada investasi lingkungan jangka panjang. Muslim for Shared Action on Climate Impact (MOSAIC) telah hadir dan membuktikan bahwa perubahan itu mungkin untuk dilakukan.

MOSAIC hadir dengan model pendanaan yang berbasis akar rumput, lintas sektor, dan transparan. Melalui program sedekah energi yang digagas, 21.000 donatur telah ikut bergerak menerangi enam masjid di berbagai provinsi. Dengan hasil nyata 23.525 watt peak energi bersih terpasang, memangkas emisi karbon dan biaya operasional yang bisa dialihkan pada program sosial lainnya.

Program wakaf hutan dari Aceh hingga Mojokerto, MOSAIC telah menjangkau sejumlah lokasi tidak sekadar untuk ditanami pohon tetapi menjadi benteng pertahanan ekologi dan ekonomi masyarakat. Berbagai program itu juga mengubah pandangan umat, dengan memberdayakan

Para pengurus masjid dan pesantren dalam menjadi teknisi dan pengelola teknologi bersih, menjadikan mereka mandiri energi sesungguhnya.

Amanah untuk Masa Depan
MOSAIC telah menggandeng banyak pihak, dari pemerintah, CSO, hingga lembaga filantropi besar. Program Ekoteologi yang digagas Kementerian Agama menjadi langkah awal dan sinyal positif yang harus ditindaklanjuti dengan langkah lainnya. Mulai dari payung hukum yang lebih kuat, insentif nyata, hingga target kuantitas yang lebih tegas.

Gerakan ini harus menjadi aksi yang lebih besar dan masif. Karena membangun transformasi filantropi Islam ini sudah tidak bisa ditunda. Dengan kekuatan inilah masa depan lestari bisa dicapai. Saatnya umat Islam membuktikan bahwa iman kita mampu menyelamatkan bumi. Menjadikan Islam sebagai solusi terdepan dalam mengatasi krisis iklim.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Dakwah Digital dan Tanggung Jawab Sosial Akademisi Universitas Ahmad Dahlan di Muhammadiyah Boarding....

Suara Muhammadiyah

28 October 2025

Wawasan

Umar Melarang Anaknya Dicalonkan Jadi Khalifah Oleh: Abdul Hafiz, Wakil Ketua PWM Bengkulu “....

Suara Muhammadiyah

13 February 2024

Wawasan

Hijrah Kontemporer, Hijrah Transformatif (2): Meneladani Jejak Informatika Muhammad saw Oleh: Sonny....

Suara Muhammadiyah

17 September 2024

Wawasan

Potensi Ekonomi Muhammadiyah Oleh: Saidun Derani Pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. ....

Suara Muhammadiyah

23 January 2024

Wawasan

Ketika Hati Menggelap, Dunia Ikut Meredup Oleh : Rusydi Umar, Dosen FTI UAD, Anggota MPI PPM (2015-....

Suara Muhammadiyah

15 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah