YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Suasana hangat dan penuh kebersamaan mewarnai Silaturrahim Syawal Nasyiatul Aisyiyah se-Indonesia yang digelar Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA), Sabtu (11/4/2026). Kegiatan ini berlangsung secara hybrid dari kantor PPNA di Jakarta dan Yogyakarta, serta diikuti ratusan kader Nasyiatul Aisyiyah dari berbagai daerah di Indonesia.
Tak hanya para kader, acara ini juga dihadiri para suami, anak-anak, serta anggota keluarga lainnya. Momentum Syawal ini menjadi ruang untuk mempererat ukhuwah, saling menyapa setelah Ramadan, sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dalam gerak organisasi.
Ketua Umum PPNA, Ariati Dina Puspitasari, dalam sambutan dan refleksi Syawal menegaskan bahwa Nasyiatul Aisyiyah harus mampu menangkap peluang dan tetap adaptif menghadapi berbagai tantangan zaman.
“Kita harus mampu menangkap peluang dan adaptif dalam segala tantangan,” ujar Ariati.
Ia juga mengakui bahwa dalam perjalanan organisasi masih terdapat berbagai keterbatasan, termasuk regulasi dan kebijakan organisasi yang belum sepenuhnya mampu mengakomodasi seluruh kepentingan kader Nasyiatul Aisyiyah.
“Kami menyadari bahwa regulasi organisasi dan kebijakan yang ada mungkin belum sepenuhnya mengakomodir seluruh kepentingan kader Nasyiah. Untuk itu kami memohon maaf,” ungkapnya.
Menurut Ariati, momentum Syawal ini harus dimanfaatkan sebagai ruang untuk memperkuat loyalitas kader sekaligus meningkatkan dukungan terhadap gerak organisasi agar semakin maju. Hal ini menjadi semakin penting menjelang dua agenda besar Nasyiatul Aisyiyah, yakni Milad ke-95 dan Muktamar ke-15 yang akan diselenggarakan pada 6–8 Agustus 2026 di Solo.
Ia juga mendorong seluruh Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah (PWNA) agar terus menyiapkan kader untuk melanjutkan pengabdian di organisasi perempuan Muhammadiyah setelah masa aktif di Nasyiatul Aisyiyah berakhir.
“Kami berharap kader Nasyiah tetap mengabdikan diri setelah di Nasyiah, dengan melanjutkan kiprah di ‘Aisyiyah,” katanya.
Lebih lanjut, Ariati menekankan pentingnya membangun organisasi yang modern, profesional, dan berkemajuan sebagaimana arahan dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sebagai organisasi otonom, Nasyiatul Aisyiyah juga dituntut untuk mampu mengikuti perkembangan zaman serta menjawab tantangan masa kini.
Dalam konteks tersebut, kader Nasyiatul Aisyiyah diharapkan mampu menemukan keseimbangan peran, baik di ranah domestik maupun publik.
“Kita harus mencari keseimbangan dalam peran kader Nasyiatul Aisyiyah, antara ranah domestik dan ranah publik,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa nilai ketauhidan tidak hanya dimaknai secara spiritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
“Ketauhidan kita tidak hanya dilihat secara ilahiah, tetapi juga ketauhidan sosial yang memberikan banyak manfaat bagi orang lain,” tegas Ariati.
Dalam forum Silaturrahim Syawal ini juga dilakukan launching logo Muktamar ke-15 dan logo Milad ke-95 Nasyiatul Aisyiyah sebagai penanda dimulainya rangkaian persiapan menuju agenda besar organisasi tersebut.
Acara kemudian ditutup dengan sesi tukar kado antar peserta, yang menambah suasana hangat dan penuh kebersamaan. Tradisi sederhana ini menjadi simbol kebahagiaan dan rasa syukur pasca-Ramadan, sekaligus mempererat ikatan kekeluargaan di antara kader Nasyiatul Aisyiyah dari seluruh Indonesia.
