DEPOK, Suara Muhammadiyah - Lalu lintas kehidupan umat manusia sangat padat. Ragam aktivitas dikerahkan dengan seluruh daya dan energi untuk meraih rezki, pangkat, muka, kursi, dan kehormatan.
Boleh jadi, kesemuanya itu telah mendapatkan semuanya atau hanya mengantongi sebagian kecil dari seluruh pencarian tersebut. Namun tanpa disadari, ada yang hilang dalam seluruh proses tersebut.
“ Ada yang kita abaikan, ada yang kita telantarkan, Apa itu ? Jiwa dan diri kita sendiri,” ungkap Zamah Sari.
Pertanyaan sederhananya, dalam kesibukan kita tersebut, kapan ada waktu untuk melayani diri sendiri? “Kita terlalu sibuk dengan “dunia luar”, tapi mengabaikan “dunia dalam” kita sendiri,” ujarnya.
Para intelektual modern sering menggunakan istilah alienasi (keterasingan dari diri sendiri), dis-orientasi (kehilangan arah hidup), dis-lokasi (kehilangan tempat berpijak) sebagai penyakit yang diderita oleh manusia-manusia moden seperti kita ini.
“Alvin Toffler mengatakan bahwa salah satu gejala negatif yang muncul di kalangan masyarakat modern yang sekuler adalah timbulnya rasa kesepian, hilangnya struktur masyarakat yang kukuh, dan hilangnya makna-makna,” jelasnya.
Di situlah relevansi ibadah puasa Ramadhan yang baru saja usai ditunaikan. Melalui puasa, niscaya ditunjukilah kembali jalan pulang, merapat ke pelabuhan jiwa kita sendiri.
“Puasa merupakan paket latihan dari Allah untuk kembali menjadi manusia yang sejati, manusia yang fitri, manusia yang autentik, manusia sebagaimana aslinya diciptakan oleh Allah,” tegas Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Bojongsari tersebut.
Melalui Puasa, niscaya melatih diri untuk mencoba melapaskan dan membuang topeng demi topeng yang biasa digunakan untuk memanipulasi kehidupan.
“Kita mencoba untuk hadir dengan wajah asli, wajah yang sebenarnya, wajah yang apa adanya, wajah yang bersahaja, wajah manusia sejati,” bebernya saat Khutbah Idul Fitri 1447 H di Masjid At-Tanwir Kavling Pertamina, Curug, Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat.
Demikian juga melepaskan seluruh keangkuhan, kemunafikan, dan kebakhilan yang menjadi wajah kita selama ini. “Dalam bahasa Al-Qur’an, menjadi manusia yang bertakwa, menjadi orang yang bersyukur, menjadi manusia yang selalu berada dalam kebenaran,” tekannya.
Zamah mengingatkan, jangan sampai modal spiritual yang telah dihimpun selama Ramadhan justru terkikis habis pada saat lebaran. Perjalanan spiritual kita belum selesai, justru dihadapan kita adalah jalan mendaki lagi sukar.
“Sekali meraih derajat takwa, tidak ada jaminan kita akan selalu berada pada maqam itu selamanya,” pungkasnya. (Cris)
