JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Upaya memperkuat kapasitas pengelolaan program berbasis lingkungan dilakukan melalui kegiatan Sharing Session: Pengalaman Strategi Pengelolaan Program Ecosociopreneurship menuju Keberlanjutan dan Pembentukan Model (Prototipe) yang dilaksanakan pada Senin, 9 Februari 2026, pukul 13.30 WIB hingga selesai melalui ruang Zoom. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pengampu program SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism).
Kegiatan ini menghadirkan Ahmad Farid selaku Manager Program 1000 Cahaya sebagai narasumber yang membagikan pengalaman praktis dalam merancang, mengembangkan, dan menjaga keberlanjutan program ecosociopreneurship. Farid menjelaskan bahwa eco-sosio bukan sekadar inisiatif usaha, melainkan sebuah cara pandang. "Kewirausahaan harus unggul membaca peluang, kreatif dalam mengelolahnya, dan mampu menang dengan menghadirkan nilai nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa setiap usaha perlu menghadirkan manfaat sosial, baik melalui socio benefit yang menghidupkan dinamika sosial, maupun socio profit yang keuntungannya dapat dirasakan secara luas. Pada saat yang sama, praktik tersebut harus berpijak pada prinsip ekologi yang menjunjung keseimbangan, keberlanjutan, serta menghargai keragaman nilai alam.
Peserta juga memperoleh gambaran tentang proses pembentukan prototipe program, strategi membaca potensi lokal, hingga pentingnya membangun kolaborasi multipihak agar inisiatif dapat terus berjalan dan berkembang. Diskusi berlangsung hangat dan interaktif, terutama saat membahas tantangan implementasi, pendanaan, dan menjaga konsistensi partisipasi masyarakat.
Pada sesi tanya jawab, Fahmi Syaifuddin selaku Focal Point Eco SMILE Jakarta mengungkapkan sharing session Ecosociopreneurship membuka mata dan pandangan akan adanya alternatif wirausaha yang tidak hanya memiliki keuntungan ekonomi, melainkan juga manfaat sosial dan ekologis. "Dengan skema koperasi sebagai antitesis korporasi kapitalistik, ecosociopreneurship diharapkan dapat memberi manfaat bagi masyarakat secara luas di tengah krisis sosio-ekologis hari ini,” ungkapnya.
Melalui sharing session ini, diharapkan lahir pemahaman bersama bahwa ecosociopreneurship adalah pendekatan jangka panjang. Bukan hanya membangun usaha, tetapi merawat dampak sosial dan lingkungan secara berkelanjutan, sekaligus menyiapkan model yang dapat direplikasi di berbagai wilayah.
Tentang Program SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah
Eco Bhinneka Muhammadiyah saat ini tengah melaksanakan program Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism (SMILE), yaitu inisiatif untuk memperkuat kepemimpinan kaum muda lintas iman dalam menghadapi perubahan iklim melalui pendekatan keadilan gender dan ekofeminisme. Program ini mendorong keterlibatan aktif generasi muda terutama perempuan dan kelompok disabilitas dalam membangun kesadaran, pengetahuan, dan aksi konkret dalam mencegah serta menghadapi krisis iklim. Kegiatan Eco Bhinneka Muhammadiyah dapat diikuti melalui website ecobhinnekamuhammadiyah.org dan Instagram @ecobhinneka.

