Sang Marbot

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
105
Marbot Masjid

Marbot Masjid

Sang Marbot 

Cerpen Soegiyono MS

Ihsan Pangestu Aji, seorang kontraktor dikenal sebagai jutawan santun dan rendah hati. Yang lebih menyilaukan lagi, setiap mengerjakan khusus bangunan tempat-tempat ibadah, seperti masjid, mushola, termasuk Panti Asuhan, Taman Pendidikan Alquran (TPA) masyarkat hanya cukup mengganti dana 75% dari total biaya seluruhnya.

“Itu merupakan ungkapan syukur kami kepada Allah SWT yang selama ini telah menganugerahi rejeki berlimpah kepada kami. Kami pun perlu berbagi kepada fihak-fihak yang layak kami bantu. Pihak yang terkait dengan pembangunan tempat-tempat ibadah dan bangunan untuk kepentingan sosial.” ungkapnya.

“Sudah barang tentu,  setiap aktivitas, mesti ada resiko.nKarena orang yang takut resiko, secara logika, tidak akan pernah menjadi besar,” katanya. 

Yang luar besar dari Ihsan adalah dimanapun, sesibuk apapun, Ia tidak lupa  menyempatkan waktu untuk menunaikan ibadah sholat lima waktu. Di mobilnya senantiasa ada karpet kecil dan sajadah. Untuk persiapan kalau-kalau lagi di daerah terpencil, susah mencari masjid dan mushola, maka karpet kecil tersebut, dapat dipergunakan untuk alas meletakkan sajadah. Dan apabila terdengar kumandang adzan, Ihsan segera mendatangi masjid atau mushola yang mengumandangkan adzan tersebut.  Ia  ikut sholat berjamaah disitu. 

Pernah satu ketika, lokasi proyeknya, ada di daerah luar kota, dan baru pertama kalimIhsan mengerjakan proyek tersebut. Sebenarnya, lokasinya, enggak primitif-primitif amat, Cuma bagi Ihsan tempat tersebut, masih asing. Ketika itu Ihsan dengan CVnya yang bernama Ridha Pratama Karya, diterima dengan baik oleh masyarakat setempat. Salah satu sebabnya, direkturnya amat ramah dan rendah hati, terlebih dengan masyarakat setempat. Ketika itu mengerjakan proyek pembuatan jembatan kecil penghubung antar kecamatan setempat. 

Yang lebih menggembirakan, CV Ridha Pratama Karya disamping membawa tenaga inti CV, juga memasukkan  banyak sekali tenaga warga dan masyarakat setempat yang masih menganggur. Tujuan Ihsan dengan melibatkan banyak tenaga warga setempat, diharapakan mereka akan bekerja dengan sungguh-sungguh, dan ada “ rasa memiliki” yang tinggi.  Termasuk konteksnya dengan keberadaan jembatan tersebut nantinya. Tujuan sampingannya, insya Allah, warga setempat secara umum, akan terpanggil untuk ikut menjaga dan menciptakan keamanan, terkait berbagai material misalnya.

Suatu hari ada sedikit insiden kecil di sekitar area proyek. Peralatan seperti sekop, cangkul, termasuk beberapa buah ember raib dari tempatnya. Untuk mengantisipasi agar hal ini tidak terulang, Ihsan membuat gudang sementara. Walaupun hanya berdinding triplek, dan beratap seng serta asbes, tapi setidaknya musti diberi kunci gembok.

Gudang ini di samping untuk berteduh karyawan sementara ketika panas dan hujan, juga bisa untuk menaruh beberapa material bangunan. Ihsan menyisihkan ruang khusus, walaupun kecil, untuk tempat menunaikan ibadah sholat, khususnya lima waktu, apabila situasi mendesak dan darurat. 

“Wah bapak ini luar biasa ya?” kata salah seorang pekerja yang berasal dari warga setempat.

“Lur biasa bagaimana maksudnya?” Ihsan ganti bertanya. 

“Walaupun sangat-sangat sibuk, tapi bapak tetap menunaikan ibadah sholat.” kata warga.

“Ya, Walaupun sesibuk apapun, jangan sampai kita meninggalkan ibadah sholat. Allah menjamin rejeki bagi manusia, maka seyogyanya, jangan sampai gegara kesibukan bekerja sampai meninggalkan sholat. Di samping kewajiban, menunaikan ibadah sholat, adalah kebutuhan pak, iya kan? Yang pertama kali dihisab untuk manusia besok di hari kiamat adalah ‘amal sholatm!” kata Ihsan tegas.

Ucapan Ihsan tersebut sangat menyentuh para pekerja. Mereka yang biasanya sholatnya bolong-bolong, hari-hari berikutnya, setelah tiba waktu sholat,  mereka tampak berwudhu dan mengerjakan sholat di gudang tempat Ihsan menunaikan ibadah sholat. Selanjutnya ruangan tempat sholat tersebut, oleh Ihsan sedikit diperlebar. Sebab di hari berikutnya yang mengerjakan sholat bertambah banyak, khususnya ketika istirahat siang. Ihsan.keudian membeli tikar plastik yang agak lebar sehingga kalau yang sholat bertambah banyak, tempatnya cukup memadai.

Atas ijin Allah, pekerja yang mau mengerjakan sholat, kian bertambah banyak, tanpa diperintah.

“Ya Allah, atas hidayahMu juga,  para pekerja bangunan itu secara mendadak, yang biasanya terkesan sungkan menunaikan ibadah sholat, kini mereka  dengan perkenanMu, mereka menunaikan sholat, walaupun masih sedikit molor. Artinya belum tepat waktu. Alhamdulillah ya Rabb.” kata Ihsan setekahsujud syukur.

Yang lebih disyukuri, hari-hari berikutnya, tidak lagi terjadi barang material hilang. Material-material, aman-aman saja. Lagian, ketika ada sebagian barang yang hilang, Ihsan juga tidak serta-merta teriak-teriak kehilangan, apalagi menuduh, tanpa bukti dan saksi. Justru Ihsan merasa, bahwa itu semua adalah kesalahannya, karena ia tidak belum menyiapkam  tempat menaruh atau menyimpan barang tersebut.

“Bos, alhamdulillah, sekarang para pekerja dari  dari warga setempat, kian bertambah banyak yang mengerjakan ibadah sholat, khususnya sholat Dzuhur. Itu semata-mata karena mengikuti apamyang bos lakukan,” kata tenaga inti dan teknisi CV Ridha Pratama Karya, ketika istirahat sore.

“Salah!” sahut Ihsan lantang.

“Maksud Bos?” tanya tenaga bercampur takut.

“Mereka sadar mengerjakan ibadah sholat itu bukan karena aku, tapi atas hidayah Allah SWT.Memang sih, bagi siapa saja yang menyuruh orang mengerjakan sesuatu, utamanya yang menyuruh itu memberi contoh melakukan terlebih dahulu. Misalnya, kita menyuruh orang lain memasang lampu penerang di atas jalan pedesaan. Sebelumnya si penyuruh harus  sudah memasang lampu terlebih dulu. Baru dia meminta orang lain memasang lampu Faham?” tanya Ihsan sambil menatap para tenaganya.

“Faham Bos, maafkan kata kami.” kata para pekerja int,

“Iya, ngggak apa-apa, ” sahut Ihsan pelan.

***

Suatu malam, sepulang sholat berjamaah di mushola,  seperti biasa Ihsan ingin memeriksa serta meneliti dokumen-dokumennya di dalam tasnya.Akan tetapi dicari dimana-mana, tasnya tidak ketemu. Bahkan di cek dimobil juga tidak ada. Ihsan kembali mencari di kamarnya, tetapi tetap tidak diketemukan. Ihsan lalu menghempaskan dirinya di sofa, sambil mengingat-ingat dimana tas kerjanya. Ihsan lalu memohon dengan berdoa kepada Allah SWT, agar tasnya bisa diketemukan. Ketika dia mencoba bertanya kepada isteri dan anaknya, mereka menjawab tidak tahu.mKarena sudah cukup malam, Ihsanpun tidur.

Seperti biasa, Ihsan pagi-pagi pergi menuju tempat proyeknya. Dia langsung duduk di kursi gudang proyek, sambil sesekali mengangguk menyapa para pekerja. Tiba-tiba ada  seorang bapak naik motor, bersama anaknya. Bapak-bapak tersebut langsung mendekati Ihsan.

“Bapak yang sering mampir sholat Asar di masjid Baiturrahman kan? Ini saya kesini mau mengantarkan tas bapak yang tertinggal di masjid kemarin,” kata bapak yang lugu dan polos itu sambil menyerahkan tas Ihsan.

“Subhanallah. Bapak ini siapa??” tanya Ihsan.

“Saya Musa, marbot masjid Baiturrahman,” jawabnya.

Setelah dicek oleh Ihsan, ternyata isi tas tersebut masih utuh. Ketika akan diberi imbalan, pak Musa mengatakan tidak usah. Dia menolong dengan ikhlas, tidak minta imbalan. Di balik pakaiannya yang lusuh, dan sederhana, dengan rona ketulusan da, keikhlasan pak Musa itulah yang membuat hati Ihsan tergerak untuk memberi imbalan yang setimpal. Apalagi mengingat isi tas tersebut kalau ditotal isinya mrencapai ratusan juta rupiah. Ihsan masih menimbang-nimbang, imbalan apa yang pantas dipersembahkan kepada pak Musa Sang Marbot yang berhati mulia tersebut. Diantaranya, Ihsan ingin membiayai sekolah anak pak Musa sampai tingkat perguruan tinggi; atau mengumrohkan pak Musa sekalian. Semua masih dalam pertimbangan, mana yang seimbang dengan ketulusan pak Musa, Sang Marbot yang berbudi luhur, jujur,  dan berhati mulia tersebut. 

Cerpen SM Edisi 02 tahun 2024 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Cerpen Ulfatin Ch Langit masih seperti dulu. Burung-burung masih berkicau merdu. Bunga pukul empat....

Suara Muhammadiyah

19 January 2024

Humaniora

Tersentuh Cerpen Reva Afifah  Sering kali aku merasa tidak suka dengan apa yang aku dapat har....

Suara Muhammadiyah

3 January 2026

Humaniora

Di tengah lingkungan yang mayoritas beragama Katolik, Masjid Nurul Asfar di Minggir, Sleman, Yogyaka....

Suara Muhammadiyah

17 March 2025

Humaniora

Menjaga Titik dan Koma Oleh: Isngadi Marwah Atmadja Pada mulanya titik dan koma  Lalu huruf ....

Suara Muhammadiyah

16 August 2024

Humaniora

Lebaran Terakhir  Cerpen Affan Safani Adham Siapa yang tahu kalau saat ini adalah waktu terak....

Suara Muhammadiyah

7 June 2024