Saad Ibrahim: Beragama Jangan Ekstrim

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
383
Rakornas LDK II Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Semarang (30/1).

Rakornas LDK II Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Semarang (30/1).

SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Dakwah sejatinya bukan sekadar menyampaikan teks dan ayat, tetapi mengajak manusia kembali mengaktualisasikan fitrah kebaikannya. Pesan inilah yang ditekankan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah KH Saad Ibrahim dalam Rakornas Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) II Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang mengusung tema “Akselerasi Dakwah Muhammadiyah Terpadu” (30/1).

Di hadapan peserta Rakornas, Saad menegaskan bahwa dakwah harus mampu membawa manusia menuju kebaikan yang nyata. Ia mengingatkan agar aktivitas dakwah tidak berhenti pada tataran normatif, melainkan menyentuh dimensi kehidupan manusia secara utuh.

Untuk menguatkan pandangannya, Saad mengutip firman Allah dalam QS. Asy-Syu’ara yang berisi pengakuan Nabi Ibrahim, “Dialah Allah yang menciptakan saya dan Dia memberi petunjuk kepada saya.” Mengacu pada tafsir ath-Thabari, ia menjelaskan bahwa petunjuk dimaknai sebagai segala hal yang mendekatkan manusia kepada kebenaran—baik dalam ucapan, pola pikir, cara pandang, hingga pada tahap aktualisasi yang lebih konkret. Dari proses itulah, manusia diarahkan menuju kecerdasan dan kematangan hidup.

Menurut Saad, manusia pada dasarnya memiliki potensi kebaikan. Karena itu, dakwah perlu dilakukan dengan pendekatan yang baik dan manusiawi.

“Manusia itu punya hati, maka masuklah dari hatinya,” ujarnya. Pendekatan dakwah, lanjutnya, harus mampu menyentuh sisi batin dan kemanusiaan, bukan sekadar menekankan aspek formal keagamaan.

Ia juga mengingatkan para dai Muhammadiyah agar tidak menyampaikan Islam dengan cara-cara yang ekstrem. Salah satu kunci untuk menghindari sikap dan pemahaman keagamaan yang ekstrem, menurut Saad, adalah penguasaan ilmu ushul fikih. Dengan landasan metodologis yang kuat, dai diharapkan mampu bersikap proporsional dan bijak dalam menyikapi keberagaman persoalan keagamaan.

“Beragam jangan ekstrem,” tegasnya.

Lebih jauh, Saad menyoroti pentingnya transformasi dakwah di tengah perubahan zaman. Ia menilai, dakwah Muhammadiyah ke depan tidak cukup hanya bertumpu pada nushush (teks-teks normatif), tetapi juga perlu mengintegrasikan pendekatan sains dan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, dakwah akan lebih kontekstual dan relevan dengan tantangan masyarakat modern.

“Selain berdakwah berbasis pada nushush, sudah saatnya juga berbasis pada sains dan ilmu pengetahuan,” pungkasnya. (diko)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Universiti Malaysia Kelantan (UMK) dan Universitas Muhammadiyah ....

Suara Muhammadiyah

25 May 2024

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Riau (Umri) mendapatkan kehormatan sebagai ....

Suara Muhammadiyah

31 July 2024

Berita

Anak Muda Punya Peran Penting di Pemilu 2024 MALANG, Suara Muhammadiyah - Pesta demokrasi 2024 sebe....

Suara Muhammadiyah

11 September 2023

Berita

“Sebenarnya Munas ke-5 IGABA akan berlangsung di Jakarta. Berhubung di Jogja kita sudah punya ....

Suara Muhammadiyah

25 October 2024

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (FH UMS) melaksana....

Suara Muhammadiyah

20 December 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah