Renungan Ramadhan tentang Kecanggihan Mata

Publish

9 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
85
Sumber Foto Unsplash

Sumber Foto Unsplash

Renungan Ramadhan tentang Kecanggihan Mata

Oleh: Mohammad Fakhrudin, Warga Muhammadiyah Magelang

Setiap muslim mukmin, lebih-lebih lagi muslim mukmin yang alim, meyakini bahwa tidak ada satu pun yang sia-sia dari ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal itu dijelaskan di dalam Al-Qur’an misalnya pada surat Ali ‘Imran (3):191, 

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.”

Sementara itu, dengan merujuk kepada firman-Nya di dalam Al-Qur’an surat at-Tin (95):4 dan al-Isra (17):70, sebagaimana telah dikutip pada “Renungan Ramadhan tentang Rambut” yang dipublikasi di Suara Muhammadiyah online 6 Maret 2026, kita meyakini bahwa manusia merupakan makhluk yang diciptakan-Nya dengan sebaik-baik bentuk.  

Kecanggihan Mata
 
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan di dalam Al-Qur’an surat al-Insaan (76):2 bahwa Dia yang menciptakan mata 

اِنَّا خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنْ نُّطْفَةٍ اَمْشَاجٍۖ نَّبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنٰهُ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرً

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur. Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan) sehingga menjadikannya dapat mendengar dan melihat.”

Mata didesain sangat canggih oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada seorang pun pakar yang mampu mendesain mata yang kita miliki. Tidak ada pabrik sukucadang mata. Kita “terima jadi”.  

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan dua mata bagi kita. Kedua mata itu dipelihara dengan kelengkapan yang kita butuhkan sampai-sampai dibuatkan saraf yang dapat melakukan gerakan otomatis seperti berkedip dan terpejam ketika tidur. 

Letak kedua mata itu diatur-Nya secara simetris di wajah. Bayangkan jika satu diletakkan di depan dan satu lagi di belakang!

Panjang mata tidak melampaui wajah. Lebarnya tidak sampai di bibir. Bayangkan jika mata kita seperti mata tokoh wayang Bagong!

Dengan letak mata yang demikian, kita dapat menggunakannya untuk belajar membaca Al-Qur’an dengan melihat gerak bibir dan lidah guru mengaji ketika melafalkan huruf-huruf sesuai dengan kaidah yang berlaku pada bahasa Al-Qur’an. Bahkan, kita dapat mengamati dengan saksama ketika dia membaca ayat-ayat Al-Qur'an sesuai dengan mahraj dan tajwidnya. 

Pada tahap awal kita belajar berbicara peranan mata sangat penting. Lebih-lebih lagi, ketika kita belajar bahasa asing. Dengan mata, kita dapat melihat gerak bibir dan lidah penutur jati sehingga dapat menirukannya meskipun tidak sesempurna penutur jati. Tentu saja, dalam hal belajar bahasa, peranan telinga sangat besar juga.

Mata dapat berfungsi juga untuk membantu keberlangsungan komunikasi bersemuka yang santun. Ketika diajak berbicara, kita dapat menghadap orang yang mengajak berbicara. Dalam situasi normal, komunikasi bersemuka yang demikian terasa akrab dan santun.

Pengaturan letak mata kita berbeda dari pengaturan letak mata misalnya pada kerbau, kambing, atau kuda. Pengaturan letak mata kita berbeda juga dari pengaturan letak mata ayam, merpati, atau bebek.

Benar-benar hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang dapat menciptakan, memelihara, dan mengatur ukuran mata dan meletakkannya sangat indah. Kita suka pada sesuatu yang indah. Itulah salah satu fitrah kita. Desain mata kita sungguh indah!

Allah Maha Tahu yang Terbaik

Di antara kita ada yang dipilih oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala diberi kemikmatan mata lengkap dengan fungsinya, yakni melihat (membaca). Namun, ada juga yang dipilih sebagai hamba-Nya yang tidak dapat memfungsikannya untuk melihat. Dalam kenyataan, di antara kita ada yang diberi kenikmatan telinga yang berdaya dengar lebih hebat. 

Menurut penelitian pakar media pembelajaran audio, mereka yang tidak dapat memfungsikan mata untuk melihat mempunyai daya tahan mendengarkan lebih lama. Itulah sebabnya bagi mereka disediakan media pembelajaran audio yang durasi pemanfaatannya lebih lama. Sebaliknya, peserta didik yang dapat memanfaatkan mata mempunyai daya tahan mendengarkan secara efektif sekitar 20 menit pada bagian awal. Setelah itu, keefektifannya menurun. 

Perbedaan itu dapat dipahami karena bagi orang yang tidak dapat memfungsikan mata untuk melihat, tidak ada gangguan mendengarkan karena pengaruh segala sesuatu yang dilihatnya. Sebaliknya, orang yang dapat menggunakan mata, ketika mendengarkan mudah sekali terganggu oleh segala sesuatu yang dapat dilihatnya. 

Orang yang dapat memanfaatkan mata mengondisikan konsentrasi terpusat pada informasi yang didengarkannya dengan cara memusatkan pandangan ke arah sumber informasi, baik yang berupa suara maupun bunyi. Jika ketika mendengarkannya, pandangan terpecah-pecah, berarti dia memecah-mecah konsentrasinya. Akibatnya, hasil mendengarkannya pun tidak maksimal. Hal itu pernah dibuktikan melalui penelitian. Orang yang dapat memanfaatkan mata dan mengarahkan pandangan matanya ke sumber suara ketika mendengarkan berita, memperoleh hasil maksimal dibandingkan dengan yang sebaliknya.

Umumnya orang berusia muda dapat membaca/melihat tanpa bantuan kacamata. Tentu ada orang-orang yang dipilih oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala diberi kelebihan pada mata. Mereka dapat memfungsikannya untuk membaca tanpa alat bantu (misalnya kacamata). Bahkan, ada pula di antara kita yang ketika berusia sekitar 50 tahun, untuk membaca harus menggunakan kacamata baca, tetapi ketika berusia 60 tahun mampu membaca tulisan yang sama tanpa bantuan kacamata. 

Peristiwa itu bukan hasil pengobatan medis dengan teknologi yang canggih atau pengobatan herbal. Perubahan itu terjadi atas kuasa Allah Subhanahu wa Ta’ala. Subhanallah! Allahu akbar! Sangat mungkin, Dia bermaksud menguji; apakah mereka menjadi takabur atau makin bersyukur. 

Hikmah di Balik Keterbatasan Daya Pandang

Pernahkah kita merenung serius dengan fokus pada mata kita? Ketika terik mentari menyinari jalan raya, tampak ada air di jalan itu. Namun, setelah kita sampai di tempat yang sebelumnya tampak berair, ternyata tidak ada setetes pun. Mata kita tertipu. Pada saat tertentu, mata kita melihat ke atas. Tampak ada warna biru, yang kita sebut langit. Namun, benarkah ada langit biru? Apa yang terjadi jika pada malam hari tiba-tiba lampu di rumah dan di sekitar kita padam, sedangkan bulan tidak tampak? Dapatkah kita membedakan warna? Tidak!

Jika ada tembok yang mengalangi, mampukah mata kita melihat segala sesuatu yang ada di balik tembok itu?  Mampukah mata kita melihat segala sesuatu yang ada di dalam tanah tempat kita berpijak? Tanpa bantuan alat canggih, mata kita tidak mampu. Betapa terbatasnya kemampuan mata! 

Apa yang terjadi jika sekarang mata kita dapat melihat segala sesuatu yang ada di balik tembok? Jika di balik ada sesuatu yang mengerikan, kita ketakutan. Jika di balik tembok ada sesuatu yang sangat lucu, kita tertawa. Dapatkah kita shalat dengan tenang?  

Apa yang terjadi jika sekarang mata kita dapat melihat segala sesuatu yang ada di dalam tanah? Jika ada harta, dapatkah kita shalat dengan tenang? Bagaimana halnya jika ada sesuatu yang mengerikan?

Apa yang terjadi jika sekarang mata kita dapat melihat isi kantong/dompet orang lain? Dapatkah shalat atau mengaji dengan tenang? Jika sedang bekerja, dapatkah dengan tenang kita bekerja? 

Subhanallah! Di balik keterbatasan keawasan mata, ada hikmah yang luar biasa! Justru keterbatasan itu membuat kita dapat shalat, mengaji, dan bekerja dengan tenang. Pandangan kita tidak terganggu! Hati pun tidak tergoda!

Masih banyak lagi kecanggihan mata yang harus sadari. Apa yang kita pikirkan jika mata kita mengantuk? Setidak-tidaknya, kita mengetahui bahwa  kita mendapat sinyal agar tidur karena memang saat tidur telah tiba! Dengan waktu tidur yang cukup, kesehatan kita terjaga. Jika waktu tidur tidak cukup, timbul masalah pada kesehatan kita.  

Pelajaran Sangat Berharga

Cukup banyak kasus yang harus menjadi pelajaran bagi kita. Ada orang yang ketika sinyal mengantuk datang secara alami menghindarinya dengan cara minum jamu atau obat tertentu untuk menghalau rasa kantuk itu. Rasa kantuk pun hilang. 

Cara yang demikian diulang dan dijadikan kebiasaan. Sampai beberapa bulan, sepertinya tidak ada efek buruk. Karena merasa “sehat”, dia mengolok-olok sesama sopir angkutan umum, yang tidur di kendaraan setelah shalat zuhur di masjid. Ternyata setelah satu tahun mengonsumsinya, dia strok, sedangkan teman-teman yang diolok-olok, masih bugar! Menurut keterangan dokter, minuman atau obat yang dikonsumsinya itu yang menyebabkan strok.

Di samping ada yang baru merasakan efek buruk dalam waktu lama, ada yang merasakannya dalam waktu tiga hari setelah mengonsumsinya dan berakibat fatal. Ada pembuluh darah di kepalanya yang pecah dan hal itu menyebabkan kematiannya. 

Apa yang terjadi jika mata tidak memberikan sinyal berupa rasa kantuk? Sangat mungkin ada orang terjatuh karena tidur. Bukankah sangat fatal jika peristiwa itu terjadi ketika seseorang sedang mengendarai mobil atau sepeda motor atau sedang melakukan aktivitas yang memerlukan mata dalam keadaan terjaga? 

Dapat saja terjadi; karena tidak ada sinyal mengantuk, orang bekerja melampaui durasi kemampuan saraf mata dan anggota  tubuh bekerja. Akibatnya, saraf mata dan organ tubuh lainnya pun cepat rusak. 

Pada orang sehat, rasa kantuk datang secara teratur; tidak sebarang waktu. Bahkan, waktu kantuk dapat dipolakan, baik datang maupun hilangnya. Bagi orang yang ahli “ibadah malam”, tidak ada gangguan rasa kantuk ketika harus beraktivitas meskipun dia beraktivitas pagi sampai sore.

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

“maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan?”


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Guru Sejahtera, Pendidikan Berkualitas  Oleh: Afridatul Laela Amar, Guru TK ABA Dudukan Tonjon....

Suara Muhammadiyah

26 January 2026

Wawasan

Menghidupkan Amal Usaha Pengajaran Al-Qur’an Bagi Lansia Oleh: A. Afandi Sumari, S.IKom, M.IK....

Suara Muhammadiyah

14 April 2025

Wawasan

Ber-'Aisyiyah Sepanjang Usia Dr Amalia Irfani, Dosen IAIN Pontianak, LPPA PWA Kalbar  Berkese....

Suara Muhammadiyah

20 May 2024

Wawasan

Indonesia Emas 2045 dengan Merawat Generasi Sehat dan Cerdas Oleh : Dr. dr. H. Andi Sofyan Hasdam, ....

Suara Muhammadiyah

12 February 2024

Wawasan

Menuntut Ilmu dan Jalan Penuh Liku  Kampus UGM, Bulaksumur-Jogja, medio 1999. Aku naik ke lant....

Suara Muhammadiyah

28 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah