Ramadhan, Bara Timur Tengah, dan Ujian Kematangan Politik Global Indonesia

Publish

9 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
122
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Ramadhan, Bara Timur Tengah, dan Ujian Kematangan Politik Global Indonesia

Oleh: Suko Wahyudi, Pegiat Literasi Tinggal di Yogyakarta 

Ramadhan selalu menghadirkan jeda moral di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Ia mengajarkan disiplin diri, empati sosial, dan kesadaran akan batas. Namun ketika umat Islam di berbagai penjuru dunia menundukkan ego dan memperbanyak doa, ketegangan di Timur Tengah justru mengeras. Eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran, dengan bayang-bayang rivalitas yang melibatkan Israel, mengingatkan kita bahwa politik global kerap berjalan di jalur yang berlawanan dengan pesan spiritual.

Konflik ini bukan sekadar episode militer. Ia adalah simpul dari rivalitas lama, pertarungan pengaruh, dan perebutan legitimasi di kawasan yang menguasai jalur energi dunia. Ketika ketegangan meningkat di sekitar Selat Hormuz, pasar global segera bereaksi. Harga minyak bergerak liar, bursa saham goyah, dan negara-negara importir energi mulai menghitung ulang ketahanan fiskalnya. Dalam dunia yang saling terhubung, jarak geografis tidak lagi menjadi penyangga dampak.

Indonesia mungkin tidak berada di garis depan konflik, tetapi kita tidak imun terhadap getarannya. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor energi, setiap lonjakan harga minyak berpotensi membebani APBN, mempersempit ruang fiskal, dan mendorong inflasi. Dampaknya terasa nyata: biaya logistik meningkat, harga bahan pokok tertekan, dan daya beli masyarakat terancam. Dalam suasana Ramadhan, ketika konsumsi rumah tangga naik dan solidaritas sosial diuji, tekanan ekonomi mudah berubah menjadi kegelisahan kolektif.

Di titik ini, kita perlu keluar dari jebakan narasi emosional. Konflik Timur Tengah sering kali dibaca secara hitam-putih, seolah-olah hanya ada satu garis kebenaran. Padahal geopolitik adalah ruang kompleks yang diwarnai kepentingan strategis, sejarah panjang, dan kalkulasi kekuasaan. Rivalitas Washington–Teheran tidak semata soal isu nuklir atau dukungan terhadap kelompok proksi, melainkan tentang siapa yang membentuk arsitektur keamanan kawasan. Membaca konflik secara simplistis hanya akan memperkeruh ruang publik kita sendiri.

Bagi Indonesia, situasi ini adalah ujian kepemimpinan. Sejak awal kemerdekaan, politik luar negeri kita berpegang pada prinsip bebas dan aktif. Bebas berarti tidak terseret dalam orbit kekuatan besar; aktif berarti tidak abai terhadap upaya menjaga perdamaian dunia. Prinsip ini bukan slogan historis, melainkan strategi bertahan dalam dunia yang terpolarisasi. Dalam konteks eskalasi AS–Iran, kebebasan dan keaktifan itu harus diterjemahkan menjadi sikap yang tenang, terukur, dan konsisten.

Namun politik luar negeri yang matang mensyaratkan fondasi domestik yang kokoh. Ketahanan energi, ketahanan pangan, dan stabilitas fiskal bukan sekadar agenda teknokratis, melainkan bagian dari strategi geopolitik. Ketergantungan pada impor energi membuat kita rentan terhadap fluktuasi global. Setiap konflik di Timur Tengah menjadi pengingat bahwa transformasi menuju energi terbarukan dan diversifikasi sumber pasokan bukan lagi pilihan jangka panjang, tetapi kebutuhan mendesak.

Di sisi lain, krisis global sering menjadi cermin bagi kualitas demokrasi kita. Opini publik yang terpolarisasi dan literasi yang lemah dapat mendorong kebijakan yang reaktif. Media sosial mempercepat penyebaran sentimen, tetapi tidak selalu memperdalam pemahaman. Di sinilah peran negara dan elite intelektual menjadi penting: menjaga ruang publik tetap rasional, menghindari simplifikasi, dan mengedepankan analisis yang berbasis data serta kepentingan nasional.

Indonesia memiliki modal simbolik yang tidak kecil. Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan negara Muslim terbesar, suara Indonesia memiliki bobot moral dalam forum internasional. Seruan untuk de-eskalasi dan penyelesaian damai tidak datang dari ruang kosong, melainkan dari pengalaman panjang mengelola keberagaman dan menjaga stabilitas di tengah perbedaan. Pengalaman ini dapat menjadi kekuatan diplomatik, terutama dalam dunia yang semakin terfragmentasi.

Namun modal moral harus diiringi kapasitas strategis. Diplomasi membutuhkan jaringan, konsistensi, dan ketepatan membaca momentum. Indonesia perlu memperkuat peran di ASEAN, menjalin kemitraan yang seimbang dengan berbagai kekuatan global, serta menjaga agar kepentingan nasional tetap menjadi kompas. Politik bebas aktif tidak boleh dimaknai sebagai sikap abu-abu, tetapi sebagai keberanian untuk berdiri di tengah, menjaga ruang dialog ketika yang lain memilih konfrontasi.

Ramadhan memberi metafora yang relevan bagi kepemimpinan nasional. Puasa adalah latihan pengendalian diri. Dalam politik global, pengendalian diri berarti menolak provokasi, menimbang setiap langkah, dan tidak tergesa-gesa mengambil posisi demi popularitas sesaat. Negara yang matang adalah negara yang mampu memisahkan empati kemanusiaan dari kalkulasi strategis tanpa kehilangan keduanya.

Gejolak di Timur Tengah juga harus dibaca sebagai peringatan atas rapuhnya tatanan global. Dunia bergerak menuju multipolaritas, dengan munculnya kekuatan-kekuatan baru dan melemahnya dominasi tunggal. Dalam lanskap seperti ini, kelincahan dan ketahanan menjadi kunci. Indonesia perlu memastikan bahwa setiap guncangan eksternal tidak berubah menjadi krisis domestik. Stabilitas bukan berarti stagnasi, melainkan kemampuan beradaptasi di tengah perubahan.

Pada akhirnya, pertanyaan mendasarnya sederhana: apakah kita siap menjadi bangsa yang dewasa dalam membaca dunia? Kedewasaan itu tercermin dari kemampuan menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan komitmen kemanusiaan. Kita dapat bersuara tegas untuk perdamaian tanpa harus terseret dalam polarisasi global. Kita dapat menunjukkan solidaritas tanpa mengabaikan kalkulasi ekonomi yang realistis.

Ramadhan mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah pada dominasi, melainkan pada pengendalian diri. Jika pesan ini mampu diterjemahkan ke dalam kebijakan dan perilaku politik, Indonesia tidak hanya akan selamat dari badai geopolitik, tetapi juga tumbuh sebagai aktor global yang lebih matang. Dunia mungkin terus bergejolak, tetapi bangsa yang memiliki kompas nilai yang jelas dan strategi yang terukur tidak akan mudah terombang-ambing.

Di tengah doa-doa yang terangkat pada malam-malam Ramadhan, ada harapan agar para pemimpin dunia menemukan kembali akal sehatnya. Bagi Indonesia, harapan itu harus disertai kerja nyata: memperkuat fondasi ekonomi, menjaga stabilitas sosial, dan mengukuhkan diplomasi yang berorientasi pada perdamaian. Sebab dalam dunia yang semakin bising oleh ambisi kekuasaan, suara yang paling dibutuhkan adalah suara yang tenang, rasional, dan bermartabat.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Prof Dr A Hilal Madjdi, Wakil Ketua PDM Kudus Dalam pekan ini penulis diminta untuk menjadi s....

Suara Muhammadiyah

14 June 2025

Wawasan

Iuran Anggota Muhammadiyah: Mengapa Tidak Lewat LAZISMU?Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso, ....

Suara Muhammadiyah

10 February 2025

Wawasan

Memelihara Kehormatan dan Nama Baik Tetangga Oleh: Mohammad Fakhrudin Butir ke-6 dari 11 butir per....

Suara Muhammadiyah

22 August 2025

Wawasan

Segenggam Impian untuk IMM di Masa Depan Oleh: Tri Laksono Pernahkah kita membayangkan kehidupan b....

Suara Muhammadiyah

14 October 2023

Wawasan

Menyikapi Fenomena #KaburAjaDulu: Antara Harapan dan Realita Oleh: Candra Kusuma Wardana, S.E., MBA....

Suara Muhammadiyah

12 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah