Profesional Tanpa Ideologi: Ironi di Tubuh Amal Usaha Muhammadiyah

Publish

12 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
58
Ilustrasi

Ilustrasi

Profesional Tanpa Ideologi: Ironi di Tubuh Amal Usaha Muhammadiyah

Oleh: Agus Setiyono, Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah dan Pegiat Dakwah Online, Jambi

Muhammadiyah adalah rumah besar. Bukan hanya besar dalam jumlah amal usaha, tetapi juga dalam sejarah, nilai, dan cita-cita. Sebagai salah satu organisasi masyarakat Islam dengan aset dan jaringan amal usaha terbesar di negeri ini, Muhammadiyah tentu membutuhkan tidak sedikit pekerja untuk ikut menggerakkan roda—dari ruang kelas, rumah sakit, hingga kantor-kantor administrasi yang denyutnya nyaris tak pernah berhenti.

Namun di balik kebesaran itu, ada ironi yang tumbuh diam-diam: tidak semua yang bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah memahami Muhammadiyah itu sendiri.

Ada karyawan AUM yang profesional, cekatan, dan terampil secara teknis, namun kikuk ketika diajak berbicara tentang sejarah persyarikatan, ideologi gerakan, atau arah dakwah Muhammadiyah. Mereka hadir secara fisik dalam struktur amal usaha, tetapi absen dalam kesadaran nilai. Bekerja di dalam tubuh Muhammadiyah, tanpa benar-benar mengenali ruh yang menghidupinya.

Sebagai organisasi modern, Muhammadiyah tentu menjunjung tinggi profesionalisme. Kompetensi adalah keniscayaan. Amal usaha bukan ruang coba-coba. Namun persoalan muncul ketika profesionalisme dipahami secara kering, seakan-akan nilai, ideologi, dan komitmen persyarikatan hanyalah aksesori—boleh ada, boleh juga diabaikan.

Ironi itu kian terasa ketika menyentuh hal yang paling elementer dalam keanggotaan Muhammadiyah: NBM (Nomor Baku Muhammadiyah).
Di beberapa tempat, upaya mengajak karyawan AUM untuk mendaftar dan memiliki NBM—sebagai tanda administratif sekaligus simbol keterikatan dengan Persyarikatan—justru menuai penolakan. Ada yang merasa keberatan, ada yang enggan, bahkan ada yang menganggapnya tidak penting. Seolah-olah bekerja di Amal Usaha Muhammadiyah tidak perlu disertai pengakuan identitas sebagai bagian dari Muhammadiyah itu sendiri.

Padahal NBM bukan sekadar nomor. Ia adalah penanda kesediaan untuk berproses, belajar, dan berkomitmen pada nilai. Ketika hal sesederhana itu ditolak, pertanyaannya menjadi lebih dalam: apakah yang ditolak itu sekadar administrasi, atau sebenarnya nilai dan identitas Muhammadiyah itu sendiri?

Di sisi lain, Muhammadiyah terkadang tampak terlalu permisif. Pintu dibuka lebar demi kebutuhan tenaga profesional, tetapi pembinaan nilai sering berhenti pada tataran formalitas. Orientasi singkat, pengajian sesekali, tanpa proses internalisasi yang berkelanjutan. Akibatnya, lahirlah karyawan yang bekerja untuk Muhammadiyah, tetapi tidak tumbuh bersama Muhammadiyah.

Ironi berikutnya tak kalah menyakitkan. Banyak kader—yang sejak awal berproses, memahami ideologi, dan setia pada denyut nadi persyarikatan—justru kerap terpinggirkan. Bukan karena kurang kapasitas, melainkan karena kurang “pendekatan”, kalah dalam mekanisme administratif, atau tak pandai menampilkan diri. Padahal mereka membawa bukan hanya kompetensi, tetapi juga loyalitas nilai.

Di titik ini, pertanyaan kritis layak diajukan: Apakah Amal Usaha Muhammadiyah sedang menjadi alat dakwah dan kaderisasi, atau perlahan berubah menjadi institusi profesional yang netral nilai?

Profesionalisme sejati sejatinya tidak menanggalkan sisi humanis dan ideologis. Kompetensi memang syarat utama, tetapi kesadaran nilai adalah penopangnya. Amal usaha bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan ruang pengabdian dan perpanjangan dakwah. Tanpa pemahaman ideologi, amal usaha berisiko menjelma menjadi korporasi: rapi secara manajerial, namun kering secara ruhani.

Muhammadiyah sejak awal tidak hanya bertanya apa yang dikerjakan, tetapi untuk apa semua itu dilakukan. Amal usaha adalah wasilah, bukan tujuan akhir. Jika wasilah diisi oleh orang-orang yang asing terhadap tujuan, maka yang tumbuh hanyalah rutinitas, bukan peradaban.

Sudah saatnya Muhammadiyah bersikap lebih tegas dan adil. Menjaga standar profesionalisme setinggi mungkin, sembari serius membangun kesadaran nilai, kaderisasi, dan keberpihakan ideologis. Bukan memilih antara kompetensi atau identitas, melainkan menyatukan keduanya dalam satu napas gerakan.

Sebab Amal Usaha Muhammadiyah yang kuat tidak hanya ditopang oleh karyawan yang terampil, tetapi oleh insan-insan yang paham mengapa mereka bekerja, kepada siapa mereka mengabdi, dan nilai apa yang mereka perjuangkan.

Di situlah Muhammadiyah akan tetap menjadi gerakan—bukan sekadar organisasi besar yang sibuk mengelola aset, namun lupa merawat jati diri. Wallahu a'lam bish shawab


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Bagaimana Islam Melihat Sosok Isa Al Masih (Mesias)?  Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu....

Suara Muhammadiyah

21 June 2024

Wawasan

Mengenal Nilai-Nilai Islam dalam Kehidupan Masyarakat Jepang Oleh: Lady Nubailah Wahdah/Kader ....

Suara Muhammadiyah

14 April 2025

Wawasan

Naik Kelas Dalam Bicara: Belajar Berbicara dari Socrates dan Nilai Islam Oleh: Furqan Mawardi, Penu....

Suara Muhammadiyah

8 November 2025

Wawasan

Menghadapi Banjir Informasi dengan Pendidikan Berpikir Kritis  Oleh: Sucipto, PhD/ Kaprodi Pen....

Suara Muhammadiyah

19 April 2025

Wawasan

Kalender Hijriah Global Tunggal: Jalan Solusi untuk Menyatukan Umat Islam Oleh: Najihus Salam, Kade....

Suara Muhammadiyah

19 December 2024