BANTUL, Suara Muhammadiyah - Kajian Menjelang Berbuka ke-3, Senin (3/3) di Masjid Islamic Center UAD diisi oleh Ulama Muda Muhammadiyah yaitu Ustadz Niki Alma Febriana Fauzi, S.Th.I., M.Us. dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dengan membawa tema “Peran Iman & Akal dalam Islam”. Niki menyampaikan tema ini berkaitan tentang pengabdian sebagai etos atau sebagai pandangan hidup untuk apapun.
“Selama kita disebut manusia, kita beraktivtas, kita melakukan tindakan, beribadah ritual, kuliah bagi teman mahasiswa, atau bapak ibu bekerja, kalau itu dibingkai sebagai pengabdian, maka kita akan mendapatkan keberkahan dari setiap aktivitas kita,” terangnya.
Allah menciptakan manusia tujuannya adalah untuk mengabdi. Dalam bahasa agama yaitu ibadah yang bermakna menyembah atau mengabdi. Allah SWT berfiman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ ٥٦
Artinya:
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 55).
Disampaikan juga bahwa mengenal dan mengklasifikasikan ibadah itu menjadi dua yaitu ibadah umum dan ibadah khusus. Ibadah yang bersifat umum adalah ibadah yang tidak diatur tata caranya secara rinci oleh syariat. Dalam Muhammadiyah didefinisikan sebagai segala sesuatu yang diridhoi yang disukai oleh Allah SWT, diizinkan oleh syariat.
“Segala sesuatu tidak hanya sekedar ibadah, tapi segala tindak tanduk kita kalau kita niati sebagai ibadah maka akan bernilai pahala. Misalnya kita yang hadir di masjid meniatkan kehadirannya untuk menuntut ilmu, maka insyaallah kehadiran kita itu dicatat sebagai amal ibadah,” jelasnya.
Adapun ibadah khusus adalah ibadah yang telah diatur tata caranya oleh syariat baik itu waktu dan tempatnya sudah diatur secara rinci. Contohnya ialah shalat, shalat sudah diatur waktunya, tempatnya, tata caranya. dan lain sebagainya. Maka tidak boleh membuat ibadah baru yang sifatnya khusus.
Tidak diperbolehkan membuat ibadah-ibadah baru yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, contohnya shalat 5 waktu, ditambah menjadi 7, karena Rasulullah SAW hanya mengajarkan 5 waktu shalat, maka hal tersebut tidak bisa dibenarkan secara syariat dan itu bisa masuk dalam kategoi bid'ah.
Kemudian Niki menyampaikan tentang 3 Pondasi untuk membangun etos pengabdian yaitu inovatif (imtiyaz), profesional (Itqan), dan dedikatif (ihsan).
Pertama, Imtiyaz yaitu pembaharuan atau tajdid, dan Tajdid telah menjadi salah satu karakteristik yang melekat pada diri Muhammadiyah. Tajdid terbagi menjadi 2 yaitu Purifikasi dalam ranah akidah dan ibadah, lalu Dinamisasi dalam ranah Muamalah Duniawiyah.
Kedua, Profesional. Menurutnya, Profesionalitas atau Itqan merupakan tindakan seseorang yang dilakukan berdasarkan keterampilan yang diperoleh dari konsep-konsep yang memiliki dampak pada suatu hasil di masa depan dengan standar kinerja yang sangat tinggi. Itqon mendorong seseorang untuk mandiri, Nabi SAW bersabda:
إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ (رواه الطبرني والبيهقي)
Artinya:
Dari Aisyah RA. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, mengerjakannya secara itqan (professional)”. (HR. Thabrani).
Itqan juga mendorong produktifitas, yaitu setelah selesai satu pekerjaan maka lanjut pekerjaan lainnya, seperti dalam firman Allah SWT pada surat al-Insyirah ayat 7.
Dalam akhir ceramahnya, Niki menyampaikan sesuatu perbuatan kebaikan yang dilakukan secara konsisten lebih baik daripada tidak konsisten. Rasulullah SAW bersabda, “bahwasanya ketika ditanya apa amalan yang paling dicintai oleh Allah ya Rasulullah? menjawab ‘Amalan yang paling dicintai oleh Allah yaitu aktivitas yang istikamah terus-menerus meskipun itu aktivitas yang kecil dan sedikit". (Bt/m)