YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pengajian Ramadan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY pada Sabtu-Ahad (8-9/3) di Auditorium Lantai 9 Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta mengusung tema "Transformasi Kader untuk Kemakmuran Bangsa."
Ketua PWM DIY Muhammad Ikhwan Ahada mengungkapkan, pengusungan tema ini sangat relevan dengan realitas kehidupan kebangsaan saat ini. Menurutnya, makna transformasi itu pada aspek upaya untuk memindahkan dan meletakkan di tempat yang baru bagi para kader Persyarikatan di semua lini kehidupan.
"Hal itu agar dakwah kita bisa memiliki radius yang lebih luas. Dan ini sesungguhnya upaya kita berkewajiban dan bersama-sama menyebarluaskan kader dengan seluruh kemampuan dan entitasnya di semua kehidupan," katanya.
Ikhwan menyebut, tranformasi itu setidaknya memiliki tiga kandungan makna. Pertama, kesadaran dan sekaligus upaya mengembangkan potensi diri, potensi Lembaga, dan potensi kelompok.
"Perlu terus ditumbuhsuburkan potensi yang sudah manifes yang selama ini sudah kita lakukan. Ke depan ada lompatan (quantum) yang oleh Prof Haedar bahwa DIY harus menjadi miniatur Muhammadiyah dan etalase Muhammadiyah di Indonesia," tuturnya.
Ditambahkan oleh Ikhwan, yang kedua kelahiran Muhammadiyah di DIY ini harus menampakkan eksistensi ideologinya. Dalam hal ini, perlu menunjukkan identitas ideologinya melalui berbagai aspek kehidupan, baik dalam pendidikan, sosial, ekonomi, maupun politik kebangsaan.
"Muhammadiyah DIY haruslah mempunyai mercusuar dari pilar Muhammadiyah yang ada. Apakah itu pendidikan, kesehatan, sosial-kemanusiaan. Upaya untuk mewujudkan apa yang menjadi harapan ini tentu kita lakukan dan kita upayakan dengan maksimal," tegasnya.
Ketiga, memproyeksikan masa depan. Hal ini dapat dijadikan momentum bagi para kader untuk mampu menghadapi tantangan dan realitas dunia yang sangat simulacra. Di mana ditandai dengan VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity).
"Jadi kempatnya merupakan tanda ketika dunia sekarang ini serba vitalitas yang menjadi ukuran. Dan dunia drama yang menjadi kiblat, sehingga sesuatu yang nyata untuk kita gapai dalam rangka mewujudkan Islam yang wasathiyah, berkemajuan, dan kemakmuran, tampaknya harus kita upayakan maksimal," bebernya.
Terkait konteks kemakmuran, Ikhwan mengatakan, derap langkah Muhammadiyah untuk kehidupan bangsa selama lebih dari satu abad lamanya tidak diragukan lagi. Namun, ketika melongok amal usaha Muhammadiyah, laju perekonomiannya masih perlu bertungkus lumus lagi.
"Ketika kita membaca data BUMM dan AUM, 60 persen dari keseluruhan amal usaha kita ini memang masih harus bekerja keras kesulitan menghidupi dirinya sendiri. Artinya, ini menjadi bukti bahwa keunggulan AUM kita masih berada di wilayah dan tempat-tempat tertentu," bebernya.
Sementara, Rektor UAD Muchlas, mengetengahkan, keberadaan kader menjadi sangat dibutuhkan. Tentunya kader yang memiliki kadar keilmuan sangat luas. Sehingga karena itu maka, UAD membuat unifikasi keilmuan.
"Itu dimaksudkan supaya kita memiliki kader-kader yang punya pengetahuan holistik. Kita memperkuat kader-kader yang menghasilkan ulama dan juga kader-kader sains, pengetahuan, engineering, matematika, ilmu humaniora, dan sebagainya," ucapnya.
Dalam kesempatan itu, juga dilaunching Sekolah Ideologi Muhammadiyah. Sekolah ini merupakan gagasan oleh MPKSDI PWM DIY. Hal ini sebagai upaya untuk penguatan ideologi Muhammadiyah. (Cris)