PONTIANAK, Suara Muhammadiyah — Silaturahim Idul Fitri 1447 H Keluarga Besar Muhammadiyah Kalimantan Barat yang digelar di Kampus Universitas Muhammadiyah Pontianak, Minggu (5/4/2026), menjadi momentum refleksi keagamaan sekaligus kepedulian global. Dalam kesempatan tersebut, Muhadjir Effendy menegaskan pentingnya peran umat dalam mendukung kemerdekaan Palestina secara damai dan rasional.
Muhadjir menjelaskan bahwa keterlibatan Indonesia, termasuk melalui forum Board of Peace (BOP), merupakan bagian dari ikhtiar kolektif untuk mendorong terwujudnya perdamaian dan kemerdekaan bagi rakyat Palestina.
Menurutnya, posisi yang didukung Indonesia dan mayoritas komunitas internasional adalah solusi dua negara sebagai jalan keluar konflik.
“Kalau tidak ada perang, mestinya sudah terwujud dua negara, opsi yang kita dukung,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina telah menghambat realisasi solusi damai tersebut. Karena itu, upaya-upaya diplomatik melalui forum perdamaian seperti BOP menjadi penting untuk terus diperkuat.
Namun demikian, Muhadjir juga mengingatkan bahwa dukungan terhadap Palestina tidak boleh dibangun di atas informasi yang keliru. Ia secara khusus menyoroti maraknya disinformasi di era digital.
“Dalam soal perang ini, kita jangan percaya begitu saja. Berita di media sosial itu 70 persen isinya hoaks,” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa literasi digital merupakan bagian penting dari perjuangan itu sendiri. Menurutnya, umat harus mampu memilah informasi agar tidak terjebak dalam narasi yang menyesatkan atau bahkan memperburuk keadaan.
Muhadjir mengajak warga Muhammadiyah untuk mengedepankan sikap kritis, rasional, dan bertanggung jawab dalam menyikapi isu global, termasuk konflik Palestina. Solidaritas, katanya, harus berjalan beriringan dengan kejernihan berpikir.
“Perjuangan kemanusiaan itu harus dilandasi oleh kebenaran informasi, bukan sekadar emosi,” imbuhnya.
Ia menegaskan bahwa secara politik internasional, Palestina sesungguhnya telah mendapatkan dukungan luas dari komunitas global. Bahkan, menurutnya, pengakuan terhadap kemerdekaan Palestina telah memperoleh legitimasi kuat di forum internasional.
“Kalau tidak diveto di Dewan Keamanan, Palestina itu sebenarnya sudah merdeka,” ujar Muhadjir.
Ia menjelaskan bahwa di tingkat Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, mayoritas negara anggota telah menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Dukungan tersebut mencerminkan konsensus moral dunia terhadap hak rakyat Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri.
Namun demikian, realitas politik global menunjukkan dinamika yang berbeda ketika keputusan harus melalui Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Muhadjir mengungkapkan bahwa empat dari lima anggota tetap DK PBB—yaitu Rusia, Tiongkok, Inggris, dan Perancis—pada prinsipnya telah menyetujui langkah menuju kemerdekaan Palestina.
“Yang menjadi hambatan adalah veto dari Amerika Serikat,” tegasnya.
Pernyataan ini menyoroti bagaimana mekanisme veto di DK PBB kerap menjadi faktor penentu yang dapat menggugurkan dukungan mayoritas dunia. Dalam konteks Palestina, hal ini menunjukkan adanya ketimpangan antara aspirasi global dan realitas politik kekuatan besar.
Muhadjir kemudian mengajak warga Muhammadiyah untuk tidak memisahkan antara silaturahim dan kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan global. Menurutnya, solidaritas terhadap Palestina merupakan bagian dari nilai ukhuwah Islamiyah sekaligus tanggung jawab moral sebagai bagian dari masyarakat dunia.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga semangat persatuan di tengah perbedaan, sebagaimana kaidah ushul fikih al-muhafazhah ‘ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah—memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik.
“Silaturahim bukan hanya mempererat hubungan personal, tetapi juga memperkuat kesadaran kolektif kita terhadap keadilan global,” ujarnya.
Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai unsur pimpinan dan warga Muhammadiyah se-Kalimantan Barat, serta tokoh masyarakat dan akademisi, yang menjadikan momentum Idul Fitri sebagai ruang refleksi spiritual sekaligus penguatan komitmen kebangsaan dan kemanusiaan.
Merawat Silaturahim, Mendorong Pembaruan
Muhadjir Effendy juga menekankan pentingnya silaturahim sebagai fondasi utama dalam membangun kekuatan sosial umat. Menurutnya, silaturahim tidak sekadar tradisi seremonial, tetapi memiliki dimensi spiritual dan sosial yang sangat dalam. “Silaturahim adalah energi pemersatu. Dari sinilah lahir kepercayaan, solidaritas, dan kekuatan kolektif umat,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam, silaturahim membawa banyak manfaat, baik secara individual maupun sosial. Selain memperpanjang umur dalam makna keberkahan, silaturahim juga membuka pintu rezeki dan memperkuat harmoni sosial. Dalam konteks organisasi seperti Muhammadiyah, silaturahim menjadi perekat yang menjaga kesinambungan gerakan dakwah dan tajdid.
Lebih jauh, Muhadjir mengaitkan makna silaturahim dengan salah satu kaidah penting dalam ushul fikih, yakni al-muhafadhah ‘ala al-qadim ash-shalih wal akhdu bil jadid al-ashlah, yang berarti menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik. Menurutnya, kaidah ini relevan dalam menghadapi dinamika zaman yang terus berubah.
“Silaturahim adalah bagian dari tradisi baik yang harus kita jaga. Namun, dalam pelaksanaannya, kita juga perlu mengadopsi cara-cara baru yang lebih efektif dan relevan dengan perkembangan zaman,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan Islam berkemajuan memiliki tanggung jawab untuk terus melakukan inovasi tanpa kehilangan akar nilai-nilai keislaman yang autentik. Dalam konteks ini, silaturahim tidak hanya dimaknai sebagai pertemuan fisik, tetapi juga dapat diperluas melalui berbagai medium, termasuk teknologi digital. Muhammadiyah harus bisa merawat tradisi yang baik dengan tetap mendorong pembaruan dan inovasi yang lebih baik.
Acara silaturahim ini diisi juga acara ramah tamah yang mencerminkan semangat persatuan dan kebersamaan yang menjadi ciri khas Muhammadiyah.
Dihadiri oleh pimpinan dan warga Muhammadiyah se-Kalimantan Barat, tokoh masyarakat, serta kalangan akademisi, yang bersama-sama menjadikan Idul Fitri sebagai momentum memperkuat ukhuwah sekaligus kepedulian terhadap keadilan global.
Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh elemen Muhammadiyah di Kalimantan Barat semakin solid dalam menjalankan peran dakwah amar ma’ruf nahi munkar, serta mampu menjawab tantangan zaman dengan semangat pembaruan yang berlandaskan nilai-nilai Islam yang berkemajuan.
