YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tradisi mudik telah menjadi potret kemasyarakatan di Indonesia. Saban tahun, tiba Idul Fitri, masyarakat mudik ke udik masing-masing dengan penuh kegembiraan.
“Selamat mudik. Tentu saksama di perjalanan dan bisa berkumpul bersama keluarga,” ucap Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Dalam pandangan Haedar, masyarakat Indonesia meniscayakan hidup guyup, kekeluargaan, dan kekerabatan sangat tinggi. Demikian halnya implikasi dengan tradisi mudik tersebut.
“Mudik itu termasuk kanopi sosial, tempat untuk memperoleh kenyamanan sosial Ketika kita pulang ke rumah (kampung halaman),” ujarnya.
Implementasi mudik di lapangan begitu rupa. Banyak tantangan dihadapi selama perjalanan. “Tapi tetap di jalani,” ungkapnya.
Secara substansial, ada kandungan mendalam dari tradisi tahunan tersebut. Cakupan mendasarnya, ingin menyambung kerinduan dengan keluarga dan kampung halaman.
“Memori kolektif sejak kecil dan seterusnya itu hidup dan tumbuh di situ,” tutur Haedar, Rabu (18/3) saat Pengajian dan Iftar Bersama PP Muhammadiyah di SM Tower Malioboro Yogyakarta.
Lebih-lebih menyangkut makanan, khususnya yang diracik sedemikian rupa oleh ibu di rumah. Menjadi sebuah kerinduan tak terperi oleh para perantauan.
“Karena makanan ibu itu lain. Jadi makanan ibu itu sampai meninggal pun akan selalu kita kenal,” bebernya.
Di situlah titik temu kebahagiaan tertinggi. Dan, pada saat yang sama terjadi perekatan kohesi sosial yang amat mendalam.
“Dan itu dimiliki oleh masyarakat Indonesia, tidak dimiliki oleh masyarakat lain. Termasuk ikatan keluarga, sangat lekat,” tegas Haedar. (Cris)
