Merdeka Berpikir Butuh Merdeka Finansial, Kritik atas “Olah-olah” Kader

Publish

4 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
177
Istimewa

Istimewa

Merdeka Berpikir Butuh Merdeka Finansial, Kritik atas “Olah-olah” Kader 

Oleh: Najihus Salam, Kader Muhammadiyah Kalimantan Timur

Berangkat dari kegelisahan yang disampaikan dalam tulisan “Resolusi 2026: Merdeka Finansial atau Mati Konyol Digulung Pinjol” oleh Izzul Khaq, kita menemukan satu benang merah penting: persoalan finansial bukan sekadar soal ekonomi, melainkan soal kedaulatan diri. Utang, ketergantungan, dan kecemasan finansial bukan hanya melemahkan daya hidup seseorang, tetapi juga menggerogoti kebebasan berpikir dan keberanian bersikap. Dalam perspektif Islam, kegelisahan ini sejatinya telah lama dijawab Al-Qur’an melalui prinsip pengelolaan harta yang berkeadaban.

Allah Swt. berfirman:

وَّجَاهِدُوۡا بِاَمۡوَالِكُمۡ وَاَنۡفُسِكُمۡ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ

“…dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah: 41)

Menarik untuk dicermati, Al-Qur’an secara sadar mendahulukan kata amwālikum (hartamu) sebelum anfusikum (jiwamu). Ini bukan sekadar susunan bahasa, melainkan pelajaran strategis. Islam mengajarkan bahwa pengabdian dan perjuangan membutuhkan kesiapan material. Kemandirian finansial adalah fondasi agar perjuangan tidak rapuh, tidak mudah ditundukkan oleh tekanan hidup, dan tidak tergelincir pada kompromi nilai karena kebutuhan sesaat.

Di sinilah relevansi kritik penulis menjadi sangat tajam, terutama jika diarahkan ke tubuh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Problem mendasarnya bukan pada kurangnya semangat atau militansi kader, melainkan pada absennya framework berpikir yang utuh. Diskursus IMM hari ini sering kali berhenti pada tataran “olah-olah”. Olah wacana, olah jargon, olah retorika atau olah-olah “yang lain”. Kita piawai membedah ketimpangan struktural, fasih mengutip teori besar, dan lantang mengkritik negara. Namun, kita kerap gagap saat harus membangun kerangka praksis kehidupan kader itu sendiri, termasuk bagaimana mengelola hidup dan keuangan personal secara berdaulat.

Akibatnya, literasi finansial diperlakukan sebagai isu pinggiran, bukan bagian integral dari proses kaderisasi dan perjuangan. Seolah urusan uang dianggap profan, tabu, atau tidak intelektual. Padahal, realitas menunjukkan sebaliknya: banyak kader yang ideologis di mimbar, tetapi rapuh di kehidupan nyata. Inilah ironi yang harus diakui dengan jujur.

Prinsip “Dana Darurat dulu, Investasi lalu Konsumsi, Aset dibanding Prestise” sejatinya adalah framework dasar yang mampu menjembatani nilai-nilai Islam dengan realitas ekonomi modern. Ia bukan sekadar tips teknis ala motivator finansial, melainkan cara pandang hidup yang berakar pada ajaran Islam.

Dana Darurat sebelum Gaya Hidup (Tahawuth & Tawakkal)

Islam mengajarkan kehati-hatian (tahawuth) dan tawakkal yang aktif, bukan kepasrahan tanpa ikhtiar. Menyediakan dana darurat sebesar 3–6 bulan biaya hidup adalah benteng finansial agar kader tidak terjerumus ke pinjol dan riba. Ini adalah wujud amanah dalam mengelola rezeki Allah, sekaligus upaya menjaga keberkahan (tabarruk). Dengan dana darurat, seseorang tidak mudah panik, tidak tergoda solusi instan, dan mampu hidup lebih tenang tanpa harus mempertaruhkan nilai.

Dalam Islam, harta tidak boleh stagnan dan apalagi dihamburkan. Ia harus produktif dan halal. Investasi pada instrumen Syariah, seperti emas atau reksa dana Syariah adalah bagian dari i‘mārah al-ardh (memakmurkan bumi). Berbeda dengan konsumsi prestisius yang habis seketika, investasi membangun aset jangka panjang. Nabi Muhammad SAW adalah teladan pedagang yang menjadikan usaha sebagai jalan keberkahan, bukan sekadar akumulasi duniawi.

Islam menolak pencitraan kosong. Memilih aset nyata dibanding prestise semu mencerminkan sikap zuhud dan qana‘ah. Fokus pada portofolio yang sehat berarti menyiapkan keamanan masa depan, kemandirian keluarga, dan peluang amal jariyah. Sebaliknya, prestise palsu sering berujung riya’, pemborosan, dan krisis finansial yang justru melumpuhkan daya juang kader.

2026 Kader Jangan Sibuk “Olah-olah”

Maka, yang sesungguhnya luput dibangun dalam diskursus organisasi otomon seperti IMM hari ini adalah framework integrative. Bagaimana nilai keislaman, nalar kritis, dan manajemen hidup bertemu dalam praktik nyata. Tanpa kerangka ini, kader hanya sibuk “olah-olah” perjuangan, tetapi rapuh secara personal. Literasi finansial seharusnya dipahami sebagai bagian dari jihad kontemporer, berjihad dengan harta agar jiwa tetap merdeka.

Pada akhirnya, kemerdekaan finansial dalam Islam bukan tentang menumpuk kekayaan, melainkan mengelola amanah secara bijak, produktif, dan berorientasi keberkahan. Tanpa framework yang jelas. Idealisme mudah terjebak slogan dan retorika kosong. Karena itu, benar kiranya. Kemerdekaan berpikir tidak akan pernah utuh tanpa kemerdekaan finansial. Tahun 2026 semestinya menjadi momentum untuk membangun keduanya sekaligus, secara sadar, terstruktur, dan berkelanjutan.

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Perspektif Kontemporer tentang Hukum Waris Oleh; Donny Syofyan/Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universit....

Suara Muhammadiyah

24 March 2025

Wawasan

Menyikapi Fenomena #KaburAjaDulu: Antara Harapan dan Realita Oleh: Candra Kusuma Wardana, S.E., MBA....

Suara Muhammadiyah

12 March 2025

Wawasan

Milad Muhammadiyah ke-113 dan Arah Baru Keadilan Ekologis Indonesia Oleh: Randi Syafutra, Dosen Uni....

Suara Muhammadiyah

18 November 2025

Wawasan

Homo Digitalis Kehilangan Titik Referensi Oleh: Agusliadi Massere Dalam narasi-narasi semiotik Yas....

Suara Muhammadiyah

10 November 2023

Wawasan

Muhammadiyah dan Standar Kemanusiaan Dunia Baru Oleh: Dwi Taufan Hidayat, kader Muhammadiyah di Kab....

Suara Muhammadiyah

25 October 2025