WONOSOBO, Suara Muhammadiyah - Suhu udara Dieng yang dingin mungkin sudah menjadi hal biasa bagi masyarakat Wonosobo. Tapi tidak dengan rombongan Suara Muhammadiyah (SM) dalam arti positif. Berada dalam suhu ruangan 20° dan di luar ruangan yang mencapai angka 12°, ternyata mereka bak avatar pengendali empat elemen. Suhu dingin malah diubahnya menjadi energi pencerahan yang nyata. Sebagaimana pasukan terlatih yang mampu beradaptasi dengan segala suhu dan cuaca ekstrem, ia justru menganggap tantangan sebagai teman yang membuat dirinya semakin kuat dan tahan dengan setiap keadaan.
Sesampainya di Villa Kiyana Resort pada sore hari selepas waktu Ashar, setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 5 jam dari Yogyakarta, rombongan yang dipimpin langsung Direktur Utama Suara Muhammadiyah Deni Asy'ari MA Dt. Marajo itu disambut oleh hujan kristal yang menambah syahdu suasana perbukitan hijau yang ditanami tumbuhan monokultur. Tidak jauh dari tempat kami menginap, berdiri dengan kokoh sebuah pusat pembangkit listrik tenaga panas bumi (geotermal).
Perjalanan ini menjadi menjadi penting bagi SM. Bukan sekedar untuk healing seperti bahasa anak muda jaman sekarang, tapi juga untuk menyamakan arah dan tujuan, memperkuat kembali kekompakan, hingga meneguhkan langkah untuk menghadapi tahun 2026 yang baru saja dimulai. Juga, agenda ini menurut Deni menjadi sangat urgen karena menyangkut masa depan bisnis SM kedepan.
Setelah sholat Magrib, dilanjutkan dengan menikmati makanan ringan sambil menunggu waktu makan malam, agenda rapat kerja tahunan SM di tahun 2026 pun dibuka (10/1). Dalam sambutannya, Deni Asy'ari menegaskan bahwa, setidaknya ada tiga hal yang harus dimiliki oleh korporasi bisnis agar dapat terus bertahan di tengah gejolak perubahan. Pertama, harus memiliki sistem yang kuat. Kedua, memiliki manajemen operasional yang mapan. Dan yang ketiga, adaptif dengan perubahan. Tanpa ketiganya, ia memastikan bahwa bisnis yang dijalankan tidak akan berjalan lama atau berkelanjutan.
Deni pun mencontohkan beberapa bisnis yang akhir-akhir ini cepat viral dan menjamur dimana-mana. Tetapi baru seumur jagung, bisnis tersebut menunjukkan tanda-tanda akan kolaps. Sebut saja brand seperti Upnormal, sebuah franchise kafe kekinian dengan menu andalan mie dan kopi dikabarkan telah menutup beberapa gerainya dikarenakan sepi pengunjung. Padahal, awalnya, bisnis ini terlihat sangat meyakinkan, berada di tempat strategis, memiliki gerai yang besar dan megah, hingga brandnya sebagai bisnis kuliner telah dikenal banyak orang. Namun, tahun ini, brand tersebut jarang terdengar.
Contoh lain perusahaan bisnis yang dalam waktu singkat berkembang pesat. Tapi dalam waktu yang tak lama juga mengalami pengurangan jumlah gerai hingga karyawan. Brand tersebut tak lain adalah Mixue, berdiri pada tahun 2024, franchise yang menjual es krim kekinian itu kini dikabarkan menutup 150 gerainya yang tersebar di seluruh Indonesia. Hal serupa juga dialami brand Almas, yang mana kehadirannya mencoba menjadi alternatif dari makanan ayam yang selama ini dikuasai brand dari Amerika, nasibnya kini tak jauh berbeda dengan Upnormal maupun Mixue. Setidaknya 15 gerai tutup di awal tahun 2026 ini.
Belajar dari fenomena bisnis yang cepat berkembang namun juga cepat kukut itu, Deni menegaskan bahwa SM harus menjadi perusahaan bisnis yang kuat dalam sistem, mapan secara menajemen, dan selalu menghadirkan produk yang inovatif kepada masyarakat. Ia mengibaratkan bisnis yang dikelola dengan memperhatikan 3 aspek ini seperti menunggangi kuda terlatih.
Narasi "menunggangi kuda terlatih" ia pilih sebagai anti tesis dari filosofi masyarakat Amerika Latin yang menyebut bisnis yang tak lagi profit sebagai kuda mati. "Kuda mati sering dianalogikan sebagai korporasi bisnis yang tak lagi mampu berkembang dan beradaptasi dengan perubahan. Kita tidak ingin menunggangi kuda mati. Untuk melesatkan bisnis SM, kita harus menunggangi kuda terlatih," tegas Deni berapi-api.
Deni kembali menegaskan, "Bisnis yang mampu bertahan adalah bisnis yang memiliki sistem dan manajemen yang kuat, itulah bisnis yang sejati," paparnya. (diko)

