Menjadi Utuh di Tengah Zaman
Oleh : Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta
Ada teks yang dibaca dengan mata.
Ada teks yang dipahami dengan akal.
Dan ada teks yang seharusnya diturunkan perlahan ke dalam dada—agar ia berdenyut bersama jantung, mengalir bersama darah, dan mengendap menjadi kesadaran.
Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah bukan sekadar kumpulan norma. Ia adalah kompas di tengah kabut zaman. Ia adalah peta ruhani di tengah rimba peradaban yang gaduh. Ia adalah undangan halus namun tegas untuk menjadi manusia yang utuh—bukan separuh, bukan tambal sulam, bukan reaktif terhadap dunia, tetapi berdiri dengan poros yang jelas.
Di bagian Pemahaman, kita diingatkan bahwa pedoman ini bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah. Dua sumber yang bukan hanya referensi, tetapi mata air. Mata air itu jernih, namun manusia sering datang dengan bejana keruh. Maka yang pertama kali harus dibersihkan bukanlah teksnya—melainkan batin pembacanya.
Pedoman ini ingin membentuk kepribadian Islami. Kata “kepribadian” di sini bukan kosmetik identitas. Ia bukan label sosial. Ia adalah struktur batin yang konsisten antara keyakinan dan tindakan, antara doa dan keputusan, antara masjid dan pasar, antara sajadah dan ruang rapat. Kepribadian Islami adalah kesatuan—tidak retak oleh kepentingan, tidak pecah oleh tekanan, tidak lentur oleh pujian.
Ketika teks ini merentangkan cakupannya dari kehidupan pribadi hingga seni dan budaya, dari keluarga hingga negara, dari amal usaha hingga teknologi—ia sedang menyampaikan pesan yang sangat mendalam, Islam bukan fragmen kehidupan. Ia adalah cara hadir. Ia adalah cara berpikir, merasa, memilih, menolak, mencintai, dan membangun.
Pada bagian Landasan dan Sumber, disebutkan bahwa pedoman ini adalah pengembangan dari khazanah pemikiran Muhammadiyah, Matan Keyakinan, Muqaddimah AD, Khittah Perjuangan, Keputusan Tarjih. Ini menunjukkan satu hal penting—bahwa hidup Islami bukan reaksi spontan terhadap zaman, tetapi hasil perenungan panjang, pergulatan intelektual, dan kesadaran sejarah.
Artinya, menjadi warga Muhammadiyah bukan sekadar menjadi anggota organisasi. Ia adalah menjadi pewaris peradaban pikir. Ia adalah menyambung estafet kesadaran. Ia adalah mengambil bagian dalam proyek besar, menghadirkan Islam sebagai rahmat yang nyata, bukan slogan yang bergema tanpa makna.
Bagian Kepentingan adalah cermin zaman. Di sana disebutkan pragmatisme, materialisme, hedonisme. Betapa relevannya. Kita hidup dalam dunia yang mengukur nilai dengan angka, mengukur sukses dengan materi, mengukur kebahagiaan dengan sensasi.
Pedoman ini hadir sebagai koreksi sunyi terhadap arah itu.
Ia berkata,
Manusia bukan sekadar makhluk ekonomi.
Hidup bukan sekadar kompetisi kepentingan.
Kemajuan bukan sekadar percepatan teknologi.
Ia mengingatkan bahwa globalisasi bukan hanya arus barang dan informasi, tetapi juga arus nilai. Dan jika nilai tidak dijaga, identitas akan larut tanpa terasa. Penetrasi budaya tidak selalu datang dengan paksaan; sering kali ia datang dalam bentuk yang memikat.
Di sinilah pedoman menjadi pagar—bukan untuk mengurung, tetapi untuk menjaga kebun agar tetap subur sesuai fitrahnya.
Bagian Sifat adalah jantung etis dari keseluruhan teks. Ia menyebut pedoman ini sebagai rabbani dan taisir. Dua kata yang jika direnungkan sangat dalam maknanya.
Rabbani berarti berporos pada Allah swt. Artinya, semua tindakan pada akhirnya kembali kepada kesadaran Ilahiah. Tidak ada ruang netral. Tidak ada keputusan yang benar-benar bebas dari pertanggungjawaban. Hidup menjadi sakral—bukan dalam arti kaku, tetapi dalam arti penuh kesadaran.
Taisir berarti memudahkan. Ini penting. Islam yang dihadirkan bukan Islam yang memberatkan jiwa, tetapi Islam yang membimbing dengan hikmah. Ia tidak membebani dengan detail yang mematahkan semangat, tetapi memberi prinsip yang menguatkan arah.
Aktual dan ideal. Dua kata lain yang terlihat sederhana namun sesungguhnya menuntut kedewasaan luar biasa. Aktual berarti relevan dengan realitas. Ideal berarti tidak kehilangan cita. Maka warga Muhammadiyah dituntut untuk hidup dalam ketegangan kreatif, berpijak di bumi, namun memandang ke langit.
Bagian Tujuan menyebutkan uswah hasanah—keteladanan yang baik. Inilah puncaknya. Semua pedoman, semua landasan, semua sistematika, akhirnya bermuara pada satu hal: menjadi teladan.
Teladan bukanlah pidato.
Teladan bukanlah status.
Teladan adalah konsistensi diam yang menggetarkan.
Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya tidak lahir dari wacana semata. Ia lahir dari individu-individu yang jujur ketika tak diawasi, adil ketika berkuasa, sederhana ketika mampu, dan teguh ketika diuji.
Bagian Kerangka menunjukkan bahwa kehidupan Islami itu menyeluruh. Dari pribadi hingga lingkungan, dari keluarga hingga ilmu pengetahuan. Ini adalah visi integral. Islam tidak takut pada sains. Islam tidak alergi pada budaya. Islam tidak anti pada kemajuan. Tetapi Islam menuntut agar semuanya diberi arah.
Teknologi tanpa nilai adalah percepatan tanpa tujuan.
Bisnis tanpa etika adalah keuntungan tanpa keberkahan.
Ilmu tanpa iman adalah cahaya yang membutakan.
Pedoman ini ingin memastikan bahwa semua ranah kehidupan tetap berada dalam orbit tauhid.
Jika direnungkan dengan jujur, teks ini sebenarnya sedang bertanya kepada kita:
Apakah kita hidup dengan sadar?
Apakah pilihan kita selaras dengan keyakinan kita?
Apakah kita hanya menjadi penonton perubahan, atau aktor nilai di tengah perubahan?
Memahami pedoman ini secara mendalam berarti menjadikannya cermin. Bukan untuk menilai orang lain, tetapi untuk menilai diri sendiri. Apakah kehidupan pribadi kita sudah islami? Apakah keluarga kita mencerminkan nilai? Apakah profesi kita membawa maslahat? Apakah keterlibatan sosial kita menunjukkan akhlak?
Refleksi terdalamnya adalah ini,
Pedoman ini bukan tentang Muhammadiyah semata. Ia tentang manusia yang ingin utuh. Ia tentang jiwa yang tidak ingin terpecah antara iman dan realitas. Ia tentang keberanian untuk hidup dengan arah di tengah dunia yang kehilangan kompas.
Dan mungkin, pada akhirnya, pedoman ini adalah panggilan lembut namun tegas untuk kembali.
Kembali kepada kesadaran.
Kembali kepada nilai.
Kembali kepada rabb—dalam setiap detail kehidupan.
Jika dibaca dengan hati yang terbuka, teks ini bukan lagi dokumen organisasi. Ia menjadi janji.
Janji untuk menjadi lebih jernih.
Lebih lurus.
Lebih bermakna.
Dan dari sanalah, masyarakat Islam yang sebenar-benarnya tidak lagi menjadi cita-cita abstrak—melainkan proses harian yang kita jalani, dengan sadar, dengan cerdas, dan dengan cinta.

