Menemukan Titik Temu Antara Agama dan Lingkungan

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
485
Diskusi

Diskusi

JAKARTA, Suara Muhammadiyah— Perkumpulan Penulis Indonesia – Satupena melalui program HATIPENA menggelar diskusi daring bertajuk “Agama: Musuh atau Sahabat Lingkungan” pada Kamis, 4 September 2025, secara daring. Diskusi edisi ke 172 ini, menghadirkan Hening Parlan, aktivis lintas iman yang saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Wakil Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP ‘Aisyiyah.

Dalam paparannya, Hening menekankan bahwa krisis iklim bukan semata persoalan ekologis, tetapi juga persoalan moral dan spiritual. Sejak awal 1900-an hingga kini, suhu bumi telah meningkat dengan sangat cepat, “Al-Qur’an mengingatkan bahwa kerusakan di muka bumi terjadi akibat ulah manusia. Namun bukan seluruh manusia, melainkan sebagian yang berperilaku merusak. Agama hadir untuk menuntun kita agar kembali menjaga keseimbangan ciptaan Tuhan,” tegasnya.

Menurut Hening yang kini juga aktif sebagai Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, wajah agama bisa berbeda-beda. Agama bisa menjadi musuh ketika ajarannya disalahpahami atau dimanipulasi demi kepentingan politik dan ekonomi. Sebaliknya, agama bisa menjadi sahabat ketika ditafsirkan secara kontekstual, progresif, dan berpihak pada keberlanjutan hidup. 

“Kuncinya ada pada ekoteologi—sebuah tafsir dan teologi yang menempatkan alam sebagai bagian integral dari iman. Merusak bumi sama artinya merusak ciptaan Tuhan. Dengan pendekatan ini, agama bisa menjadi sumber inspirasi spiritual, moral, sekaligus sosial bagi gerakan lingkungan,” ujarnya.

Hening mencontohkan sejumlah inisiatif berbasis iman: Laudato Si dalam Gereja Katolik, eco churches di kalangan Kristen, hingga Green al-Ma’un di Muhammadiyah. Bahkan, melalui Eco Bhinneka Muhammadiyah, ia bersama para mitra lintas iman berupaya menumbuhkan kolaborasi menyelamatkan bumi. 

“Urusan lingkungan tidak bisa diselesaikan oleh satu agama saja. Dalam program Sedekah Energi yang kami laksanakan di Sukabumi, misalnya, penyumbang pertama justru berasal dari saudara kita umat Buddha untuk sekolah Muhammadiyah. Jika kita saling mendukung, semua akan lebih baik,” jelasnya.

“Untuk menjadikan agama benar-benar sahabat lingkungan, ada empat hal yang perlu kita lakukan,” ujar Hening.

Pertama, melakukan reinterpretasi teks agama agar pesan pro-lingkungan lebih kuat dalam khutbah dan pendidikan. Kedua, memperkuat gerakan advokasi lingkungan di lembaga agama. Ketiga, memperluas kolaborasi lintas iman karena krisis ini masalah global. Dan keempat, membangun eco-jihad, yakni jihad ekologi yang bisa dilakukan secara lintas agama demi menjaga bumi bersama. (Farah/Sukowati)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANYUMAS, Suara Muhammadiyah - Masjid Al Muttaqiin yang berada di perumahan Grand Tanjung Elok ....

Suara Muhammadiyah

17 March 2024

Berita

  MAJALENGKA, Suara Muhammadiyah - Dalam sebuah saresehan yang dihelat di Balai Desa Lengkong ....

Suara Muhammadiyah

12 May 2024

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Politeknik Muhammadiyah (PoltekMu) Makassar menjalin kerjasama dengan....

Suara Muhammadiyah

8 September 2023

Berita

KLATEN, Suara Muhammadiyah – Dalam rangka menyambut Musyawarah Cabang (Musycab) Muhammadiyah d....

Suara Muhammadiyah

24 September 2023

Berita

PALEMBANG, Suara Muhammadiyah - SMK Muhammadiyah Tanjung Raja kembali menorehkan prestasi membanggak....

Suara Muhammadiyah

25 November 2025