PERLIS, Suara Muhammadiyah - Bertempat di perkarangan asrama UMAM, mayoritas mahasiswa baru UMAM mengikuti latihan Tapak Suci Putera Muhammadiyah di Asrama UMAM Wang Ulu Kangar Perlis pada pagi Sabtu 11 April 2026
Kegiatan ini akan menjadi kegiatan rutin ujung pekan di asrama UMAM selama terdapat guru yang layak untuk mengajarnya
Tenaga pengajarnya adalah Muhammad Isya yang juga mahasiswa baru UMAM yang dikirim oleh Pimpinan Pusat Tapak Suci Putra Muhammadiyah untuk kuliah di UMAM.
Dalam kesempatan itu Dr Rairake Setyawan sebagai dosen yang membidangi hal ehwal kemahasiswaan mengatakan bahwa perjalanan untuk mendapatkan gelar PhD memerlukan kesabaran dan ketekunan serta istiqamah. Silat menurutnya adalah sebuah kegiatan positif yang menyehatkan disamping bisa sebagai alat untuk melepaskan geram marah dan tidak puas hati dalam proses penyelesaian thesis PhD nanti. Ini sama seperti di Jepang yang juga ada rage room sebagai tempat yang aman dan selamat untuk melepaskan marah dan geram.
Dr Afriadi Sanusi sebagai ketua PRIM Perlis dalam kesempatan itu menyampaikan bahwa Tapak Suci Putera Muhammadiyah telah melalui perjalanan yang panjang di Perlis.
Tapak Suci Putera Muhammadiyah (TSPM) telah diuji di hadapan belasan ahli jawatan kuasa Mufti Perlis bahwa ia tidak mengandung unsur khurafat, tahayul dan bidah.
TSPM telah menjalani ujian kelayakan di hadapan Mufti dan sejumlah ahli dan pakar di bidang masing-masing di sebuah hotel di Perlis
TSPM juga telah ditampilkan dalam acara Perkampungan Sunnah di Perlis yang dihadiri oleh ribuan orang
TSPM juga telah tampil dalam Milad UMAM keempat yang disaksikan oleh Raja Muda Perlis
Terbaru khabarnya TSPM telah melalui proses akhir untuk dikeluarkan sebuah fatwa berkaitan dengannya
Objektif yang selalu dikatakan oleh ketua PRIM Perlis adalah jika TSPM di bolehkan di Perlis, maka diharapkan ia akan diajarkan di sekolah-sekolah Perlis. Ini berarti akan semakin banyak kader TSPM yang akan kuliah PhD dan Master di UMAM yang akan mendapatkan free tuition fee dari Pimpinan Pusat disamping mendapat side income dari mengajar silat di sekolah-sekolah di Malaysia khususnya Perlis.
Inilah antara objektif Internationalisasi sebagaimana yang diamanahkan oleh pimpinan tertinggi Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir.
