Madrasah Mubalighat ‘Aisyiyah DIY Kupas Kajian Seni dan Adab Berbusana Perspektif Tarjih Muhammadiyah

Publish

10 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
77
Istimewa

Istimewa

 

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Madrasah Muballighat ‘Aisyiyah (MMA) DIY adalah salah satu program unggulan Majelis Tabligh dan Ketarjihan (MTK) Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) DI Yogyakarta bersama dengan Korps Muballighat ‘Aisyiyah (KMA) PWA DIY. 

Pelaksanaan MMA bergantian berselang-seling dengan pelaksanaan GPM (Gerakan Perempuan Mengaji) tingkat wilayah. GPM sudah dilaksanakan rutin sejak awal periode dan pesertanya terbuka untuk para mubalighat/penggiat ‘Aisyiyah se-DIY, baik yang senior maupun yang baru tertarik untuk berdakwah, dengan materi yang lebih luas cakupannya mulai dari kajian ideologi sampai su-isu strategis terkini. Sedangkan MMA pesertanya khusus para alumni TOT dan Pelatihan Muballighat dan PIMA (Pelatihan Intensif Mubalighat ‘Aisyiyah), materinya khusus tentang ketarjihan. Sebagaimana saat pelaksanaan MMA DIY pertama kali pada Sabtu 24 Agustus 2025, kajiannya tentang Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT). 

Madrasah Muballighat ‘Aisyiyah (MMA) DIY kembali digelar pada Ahad 8 Februari 2026 di ruang multi media SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta. Mengkaji tentang Seni dan Adab Berbusana dalam Perspektif Tarjih Muhammadiyah, yang masing-masing dikupas oleh Assoc. Prof. Wawan Gunawan Abdul Wahid, Lc. MA terkait dengan Seni dalam Perespektif tarjih, serta Adab Berbusana oleh Siti Majidah, Lc MA. Selain diikuti oleh peserta yang merupakan alumni TOT dan PIMA, juga dihadiri oleh PWA DIY, MTK PWA DIY, dan pengurus KMA DIY.

Dalam sambutan dan pengantarnya, Dra. Hasta Dewi, Ketua MTK PWA DIY mengungkapkan rasa syukurnya Madrasah Muballighat ‘Aisyiyah ini kembali digelar untuk memperkuat kompetensi dalam penguasaan materi-materi ketarjihan, karena para peserta adalah para muballighat aktif yang siap untuk berdakwah. “Para Muballighat ‘Aisyiyah tidak sekedar menguasai ilmu dan pengetahuan yang kita kaji bersama terkait dengan adab berbusana dan seni dalam perspektif tarjih sekaligus dapat mempraktekkan dan menyampaikan kepada masyarakat luas di wilayah masing-masing.” Pesannya.  

Materi pertama tentang Seni dalam Perspektif Tarjih disampaikan leh Assoc. Prof. Wawan Gunawan Abdul Wahid, Lc, MA anggota divisi fatwa dan pengembangan tuntunan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengemukakan bahwa dalam pandangan Muhammadiyah “Seni” termasuk muamalah duniawiyah bukan ibadah, jadi pada dasarnya “boleh” dibahas secara komprehensif dalam HPT jilid 3. “Apalagi bila dimaksudkan untuk kebaikan untuk pendidikan dakwah atau yang lainnya, seperti yang sudah digagas oleh Lembaga Seni Budaya ‘Aisyiyah dan Bunda Siti Aisyah dari Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, seni dimanfaatkan untuk menggerakkan dakwah adalah ibadah.” Pada akhir paparannya Ustadz Wawan menggarisbawahi semua kegiatan seni tersebut tidak berlebihan dan tidak asal-asalan, dirancang sesuai dengan spirit al-Qur’an dan As-Sunah. 

Materi kedua, dengan tema “Adab Berbusana Muslimah” disampaikan oleh Siti Majidah, Lc, MA dari Divisi Ketarjihan Majelis Tabligh dan Ketarjihan (MTK) Pimpinan Pusat ‘Aisyiya (PPA), adalah materi yang sering menjadi fokus kajian karena perempuan banyak memiliki keunikan/keistimewaan sebagaimana yang disebutkan dalam buku “Adabul Mar’ah fiil Islam”. “Jilbab adalah bentuk penghormatan Islam kepada perempuan, bukan pengekangan, tetapi identitas sebagai perempuan merdeka dan perlindungan, sebagaimana yang bisa kita temukan dalam asbabun nuzul QS al-Ahzab: 59.” Tandasnya.

Lebih lanjut Majidah mengungkapkan bahwa Islam memberikan kebebasan kepada Muslimah untuk berhias dan berpakaian sesuai dengan adat istiadat dan kondisi asalkan sesuai dengan ketentuan syari’at. Dalam Syariat Islam busana muslimah adalah busana menutup aurat seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan luar dan dalam sampai pergelangan tangan. Pakaian tersebut tidak transparan, tipis membentuk lekuk, nyaman sehat dan tidak tasyabuh (menyerupai laki-laki). Jadi ukuran Syar’i tidak terletak warna,bentuk, ukuran dan bahannya namun lebih kepada pakaian yang sopan dan tidak menggoda sehingga mengakibatkan fitnah.

Secara historis Majidah juga mengungkapkan bahwa Aisyiyah, sejak awal berdirinya (1917 M), telah menuntunkan dan membudayakan budaya muslimah dengan memakai kerudung penutup kepala dan dada, tanpa penutup wajah. Tetap mengapresiasi aspek kultural, agar tidak menciptakan suasana eklusifis. Seperti Ki Bagus Hadikusumo memakai pakaian yang sesuai dengan budaya setempat, yaitu beskap dikombinasikan dengan sarung, dan memakai blangkon, atau terkadang peci. Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah juga telah mengeluarkan SK No 231/SK-PPA/A/X/2019 tentang Panduan Penggunaan Seragam Nasional, sehingga tidak ada lagi yang berkerudung model panjang, lebar, dan model langsungan/jadi. 

(S. Intani) 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Kabar duka kembali menyelimuti warga Persyarikatan. Kali ini datang....

Suara Muhammadiyah

17 December 2025

Berita

MALAYSIA, Suara Muhammadiyah – SD Muhammadiyah 1 Jakarta atau dikenal SD Mutu Jakarta men....

Suara Muhammadiyah

22 January 2024

Berita

KUDUS, Suara Muhammadiyah – Dosen Universitas Muhammadiyah Kudus(UMKU) yang tergabung dalam Ti....

Suara Muhammadiyah

5 April 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) DIY periode 2....

Suara Muhammadiyah

24 November 2023

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Depok Sleman menyelenggarakan Baitul....

Suara Muhammadiyah

11 October 2025