Kisah Haru dari Rutan kelas IIB Mamuju
Penulis: Furqan Mawardi, Muballigh Akar Rumput
Jumat Malam sabtu, 20 Februari 2026, saya kembali mendapat amanah untuk memberikan kultum tarawih di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Mamuju. Siang harinya, Pak Irham, petugas yang selama ini menjadi penghubung mengirim pesan pengingat. Bagi saya, tempat ini bukanlah lokasi yang asing. Karena sudah beberapa kali sebelumnya saya pernah hadir di sana, baik untuk menjadi khotib Jumat, Khotib Id, maupun ceramah Ramadan. Namun jujur setiap kali melangkah menuju rutan, selalu ada rasa yang berbeda di hati, yakni sebuah perasaan haru yang agak sulit untuk dijelaskan.
Memasuki masjid rutan tentu tidak semudah dan seperti memasuki masjid pada umumnya. Ada prosedur yang harus dilalui. Satu per satu pintu besi dibuka, lalu ditutup kembali di belakang kami. Saya menghitung, setidaknya ada tiga lapis pagar yang harus dilewati sebelum sampai masuk ke dalam.
Namun di balik ketatnya pengamanan, para petugas menyambut dengan hangat dengan penuh senyum, salam, dan sapaan yang bersahabat. Suasana itu membuat langkah terasa lebih nyaman dan lebih ringan.
Ketika sampai di area dalam, suasana masih hening. Saya sempat bertanya kepada Pak Irham mengapa belum terlihat aktivitas. Beliau menjelaskan bahwa para warga binaan masih berada di blok masing-masing dan belum waktunya keluar.
Tidak lama kemudian, akhirnya pintu blok dibuka. Mereka pun mulai keluar, dari mereka saya perhatikan ada yang langsung berwudhu, ada yang duduk berbincang, ada pula yang segera menuju masjid untuk tilawah dan sholat sunnah.
Saya sempat bertanya tentang jumlah penghuni. Jawabannya pak Irham membuat saya terdiam dan terheran. Ada lebih dari 300 orang menghuni tempat ini, padahal aslinya sebenarnya hanya berkapasitas sekitar 150 orang. Artinya, rutan ini mengalami kelebihan penghuni lebih dari dua kali lipat.
Malam itu saya masuk ke masjid untuk bersiap memimpin shalat Isya dan kultum tarawih. Karena masih di awal Ramadan, tema yang saya sampaikan sederhana yakni tiga doa yang seharusnya kita perbanyak di bulan suci ramadhan.
Pertama, memohon kepada Allah agar nama kita dihapus dari daftar penghuni neraka.
Kedua, memohon agar dipertemukan dengan malam Lailatul Qadar.
Ketiga, memohon agar seluruh amal ibadah kita diterima oleh Allah.
Seperti biasa, saya mencoba membuat suasana lebih hidup dengan interaksi. Saya membawa beberapa buku kecil berisi tuntunan doa dan dzikir sebagai hadiah. Menurut Pak Irham, buku-buku seperti itulah yang paling mereka rindukan. Sesuatu yang bisa dibaca, dihafal, dan diamalkan di sela-sela waktu mereka.
Saya pun mengajak mereka maju satu per satu untuk menjawab pertanyaan. Sebelum menjawab, saya minta mereka memperkenalkan diri: nama, asal, kasus, dan lama hukuman. Hampir semua yang maju malam itu memiliki kasus yang sama yakni narkoba. Namun yang menarik, suasana justru hangat, penuh canda, dan sesekali diwarnai tawa.
Salah satu yang paling menghidupkan suasana adalah seorang warga binaan kalau tidak keliru namanya Umar. Ia maju dengan penuh percaya diri. Ketika saya tanya, “Sudah hafal doanya?” ia menjawab tegas, “Belum!” Seketika masjid dipenuhi gelak tawa. Saya pun bertanya, “Kalau belum hafal, kenapa maju?” Ia menjawab polos, “Yang penting berani, Ustaz. Siapa tahu dapat hadiah.”
Malam itu, ceramah tidak terasa seperti ceramah di tempat yang kaku. Ia berubah menjadi ruang hangat, manusiawi, dan penuh kedekatan.
Di bagian akhir, saya menyampaikan kisah Malcolm X—seorang narapidana yang justru menemukan cahaya hidayah di dalam penjara dan kemudian menjadi tokoh besar dunia. Setelah itu, saya menyampaikan beberapa kalimat sederhana:
Kita tidak di sini untuk saling mengingatkan masa lalu. Kita di sini untuk membangun masa depan
Kalau ada yang merasa banyak salah, mengecewakan keluarga, atau malu kepada Allah, justru itu tanda hati masih hidup. Dan hati yang masih hidup, masih bisa bangkit.
Suasana yang sebelumnya riuh perlahan berubah hening. Beberapa menundukkan kepala. Ada yang mulai menyeka mata.
Kemudian Saya lanjutkan kembali:
Tembok ini mungkin membatasi badan kita.
Tapi jangan biarkan ia membatasi doa kita.
Jeruji ini mungkin menghalangi langkah kita
Tapi jangan biarkan ia menghalangi taubat kita.
Bisa jadi, di tempat yang sunyi ini , Allah sedang membentuk kita menjadi pribadi yang baru dan lebih baik.
Bisa jadi hari ini kita duduk di lantai masjid rutan.
Tapi siapa tahu beberapa tahun ke depan:
Ada di antara kita yg menjadi guru ngaji .
Ada yg menjadi pengusaha jujur.
Ada yg menjadi ayah yg lembut
Ada yg menjadi orang yg paling banyak sujudnya
Kemudian Saya menutup dengan doa:
“Ya Allah…
Jika tempat ini adalah ujian, jadikan ia penghapus dosa.
Jika ini akibat kesalahan kami, jadikan ia pintu taubat.
Jangan Engkau keluarkan kami dari sini,
kecuali sebagai hamba yang lebih dekat kepada-Mu.”
Malam itu, ketika saya meninggalkan rutan dan kembali melewati satu per satu pintu besi, hati saya justru terasa terbuka. Saya menyadari satu hal penting bahwa Tidak semua orang yang berada di luar sana lebih baik dari yang disini. Dan tidak semua orang yang berada di dalam sini lebih buruk dari mereka yang ada diluar sana.
Dan saya percaya juga, bahwa dari tempat yang sunyi inilah, Allah sedang menyiapkan kisah-kisah perubahan yang kelak akan menjadi bukti bahwa rahmat-Nya selalu lebih luas daripada kesalahan hamba-Nya.

