Khutbah Jum'at: Islam dan Kehormatan Penyandang Disabilitas

Publish

8 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
217
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Oleh: Luluk Bektiyono, Anggota PCM Bukit Duri Tebet Jakarta Selatan 

إِنَّ اْلحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ، وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئاَتِ أَعْمَالِناَ. مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضَلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَا دِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. الَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ نَبِيِّناَ مُحَمَّد وَ عَلىَ اٰلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ فَياَعِبَادَ اللهِ. أُصِيْكُمْ وَإَيّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Dalam kehidupan masyarakat, tidak jarang kita masih mendapati pandangan yang keliru terhadap saudara-saudara penyandang disabilitas. Mereka sering dianggap tidak sempurna, kurang berdaya, bahkan terkadang menjadi objek belas kasihan semata. Padahal dalam pandangan Islam, setiap manusia memiliki kemuliaan yang sama di hadapan Allah SwT.

Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu.”

Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak diukur dari kesempurnaan fisik, tetapi dari ketakwaan dan amal saleh yang dilakukannya.

Islam tidak pernah memandang kekurangan fisik sebagai aib atau dosa. Dalam sejarah Islam, banyak sahabat Rasulullah saw yang memiliki keterbatasan fisik, tetapi justru menjadi tokoh mulia dan berperan penting dalam dakwah Islam.

Misalnya, Abdullah bin Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta, tetapi Allah abadikan kisahnya dalam Surah ‘Abasa. Ketika Rasulullah saw sedang berdakwah kepada para pemuka Quraisy, Abdullah datang dengan tulus meminta diajari Al-Qur’an. Namun karena Rasulullah saat itu sedang sibuk berdakwah kepada kaum terpandang, beliau sempat berpaling. Maka turunlah firman Allah:

عَبَسَ وَتَوَلَّىٰ أَنْ جَاءَهُ الْأَعْمَىٰ

 “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena datang kepadanya orang buta.” (QS. ‘Abasa: 1–2)

Ayat ini adalah teguran lembut dari Allah agar umat Islam tidak mengukur kemuliaan seseorang dari status sosial atau kondisi fisiknya. Allah memuliakan orang yang tulus menuntut ilmu dan beriman, meski ia buta atau memiliki kekurangan.

Jamaah Jumat yang berbahagia

Dalam sebuah hadits sahih, Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim)

Hadits ini menegaskan prinsip kesetaraan manusia. Ukuran kemuliaan seseorang bukan pada tubuhnya, melainkan pada kemurnian hati dan ketulusan amal. Maka, penyandang disabilitas yang sabar, ikhlas, dan tetap berjuang menebar manfaat, lebih mulia di sisi Allah daripada mereka yang sehat namun sombong dan menyepelekan orang lain.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah

Dalam Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah (HPT), Majelis Tarjih dan Tajdid menegaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak dan martabat yang sama sebagai manusia dan warga negara. Mereka wajib diperlakukan dengan adil, dihormati, dan diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya.

Pandangan tarjih ini berakar pada prinsip tauhid dan ‘adl (keadilan). Tauhid menegaskan bahwa hanya Allah yang Maha Sempurna, sehingga tidak ada manusia yang lebih tinggi dari yang lain kecuali karena takwanya. Sedangkan ‘adl berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, termasuk memberikan hak kepada saudara-saudara difabel kita untuk hidup layak, berpendidikan, bekerja, dan beribadah dengan martabat.

Muhammadiyah memandang bahwa penyandang disabilitas bukanlah objek belas kasihan, tetapi subjek kemanusiaan yang berdaya, yang harus dilibatkan dalam pembangunan dan kehidupan sosial. Karena itu, banyak lembaga di bawah Muhammadiyah telah berperan aktif dalam pendidikan, pelatihan, dan pemberdayaan bagi saudara difabel. Inilah wujud nyata Islam yang rahmatan lil-‘alamin.

Islam datang bukan untuk menyingkirkan yang lemah, tetapi untuk menguatkan mereka; bukan untuk menertawakan kekurangan, tetapi untuk menumbuhkan kasih dan solidaritas sosial.

Maka, sudah seharusnya kita mengubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas. Mereka bukan beban masyarakat, melainkan bagian dari kekuatan bangsa. Mereka mengajarkan makna kesabaran, keteguhan, dan semangat hidup yang luar biasa.

Mari kita wujudkan lingkungan sosial dan keagamaan yang inklusif. Jadikan masjid tempat yang ramah bagi difabel, buka ruang partisipasi mereka di masyarakat, dan tanamkan pada anak-anak kita bahwa kemuliaan sejati bukan pada kesempurnaan fisik, tetapi pada keindahan akhlak.

Majelis Tarjih Muhammadiyah menegaskan bahwa difabel memiliki hak yang sama sebagai khalifah fil ardh, dengan kewajiban yang disesuaikan dengan kemampuan (taklīf mukhayyar). Mereka tidak boleh didiskriminasi dan justru menjadi cermin keadilan sosial Islam yang sesungguhnya.

Islam bukan sekadar membela yang kuat, tapi memuliakan yang lemah. Dalam pandangan tauhid, setiap keterbatasan bukan aib, tetapi jalan untuk menguji dan meninggikan derajat manusia di sisi Allah SwT.

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَجَعَلَنَا اللهُ مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِـرُ الله لِيْ وَلَكُمْ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أَرْشَدَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ، أَمَّا بَعْدُ؛

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ, رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَاْرحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُونَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفُ رَّحِيْمٌ، رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.

Sumber: Majalah SM Edisi 23/2025


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Khutbah

Khutbah Jum’at: Kepemimpinan dalam Islam dan Pemilihan Pemimpin أَلْحَمْدُ لِلّ....

Suara Muhammadiyah

2 February 2024

Khutbah

Oleh: M Ainul Yaqin Ahsan, MPd, Ketua KM3 DPD IMM DIY 2017-2018 الحَمْدَ لِلَّهِ ن�....

Suara Muhammadiyah

13 March 2025

Khutbah

Oleh: Diyan Faturahman, SAg., MPd, Anggota PRM Tamanan, Banguntapan Selatan الْحَمْدُ....

Suara Muhammadiyah

13 February 2025

Khutbah

 Khutbah Jum'at: Janji, Ringan Diucapkan Berat Ditunaikan  Oleh: Abdul Malik, Alumni....

Suara Muhammadiyah

18 April 2024

Khutbah

Oleh: Syaifullah  اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَكْرَمَ مَن....

Suara Muhammadiyah

7 September 2023