Ketika Idul Fitri Diuji Bukan Oleh Kemiskinan, Tapi Cara Kita Meminta

Publish

27 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
124
Ilustrasi

Ilustrasi

Ketika Idul Fitri Diuji Bukan Oleh Kemiskinan, Tapi Cara Kita Meminta

Oleh: Nashrul Mu'minin 

Idul Fitri selalu datang dengan wajah yang menenangkan. Takbir berkumandang, masjid dan lapangan penuh dengan manusia yang kembali pada satu titik yang sama: harapan menjadi lebih baik. Setelah sebulan menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu, umat Islam merasa telah memenangkan sesuatu yang besar dalam dirinya.

Namun kemenangan itu sering kali disalahpahami. Banyak yang mengira bahwa Idul Fitri adalah puncak dari segalanya, padahal sejatinya ia hanyalah gerbang awal untuk menguji hasil dari Ramadhan. Apakah benar kita telah berubah, atau hanya sekadar menjalani ritual tahunan tanpa bekas yang berarti?

Allah SWT telah menegaskan tujuan utama dari puasa dalam firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa… agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Takwa bukan sekadar rasa takut, melainkan kesadaran penuh dalam menjalani hidup sesuai dengan kehendak Allah. Ia hadir dalam ibadah, tetapi juga dalam cara kita berinteraksi dengan sesama manusia, termasuk dalam hal-hal yang sering dianggap sepele seperti tradisi THR.

Fenomena THR di Indonesia telah mengalami pergeseran makna. Dari yang semula merupakan hak pekerja dalam hubungan kerja, kini meluas menjadi budaya sosial yang kadang kehilangan batas. Tidak sedikit orang yang menganggap “uang Lebaran” sebagai sesuatu yang wajib diberikan oleh siapa saja yang dianggap mampu.

Padahal dalam Islam, kewajiban selalu lahir dari akad atau kesepakatan yang jelas. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” (QS. Al-Ma’idah: 1).

Dalam konteks ini, THR bagi pekerja adalah hak yang sah dan wajib ditunaikan. Ia bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari tanggung jawab yang memiliki dimensi moral dan spiritual. Menahannya bukan hanya melanggar aturan, tetapi juga mencederai nilai keadilan.

Namun di luar itu, Islam tidak pernah mewajibkan seseorang untuk memberi “THR” kepada kerabat, tetangga, atau anak-anak. Yang ada adalah anjuran untuk berbagi, bukan tekanan untuk memberi. Memberi adalah kemuliaan, tetapi ketika berubah menjadi tuntutan, ia kehilangan maknanya.

Lebih jauh lagi, kebiasaan meminta dengan dalih Lebaran sering kali mengikis harga diri. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa bekerja keras, meskipun sederhana, lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain. Ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga kehormatan individu.

Ketika seseorang meminta tanpa kebutuhan mendesak, apalagi dengan cara memaksa atau mempermalukan, maka nilai sosial yang dibangun dalam Idul Fitri menjadi rusak. Tradisi yang seharusnya membawa kebahagiaan justru berubah menjadi beban bagi sebagian orang.

Sebaliknya, Islam mengajarkan adab menerima dengan penuh kehormatan. Jika diberi tanpa meminta, maka terimalah dengan syukur. Namun jika tidak, maka tidak perlu mengejar atau mengharap secara berlebihan. Di sinilah letak keindahan ajaran Islam: menjaga keseimbangan antara memberi dan menjaga diri.

Allah SWT juga berfirman: “Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.” (QS. At-Taubah: 71).

Ayat ini menegaskan pentingnya solidaritas sosial. Namun solidaritas bukan berarti memaksa, melainkan saling memahami. Memberi dengan ikhlas dan menerima dengan penuh adab adalah dua sisi yang harus berjalan seimbang.

Jika Ramadhan benar-benar melahirkan takwa, maka ia akan terlihat dalam dua sikap utama: kedermawanan bagi yang memberi dan kehormatan bagi yang menerima. Tidak ada paksaan, tidak ada tuntutan, hanya keikhlasan yang mengalir secara alami.

Idul Fitri sejatinya bukan hanya tentang pakaian baru atau amplop berisi uang. Ia adalah tentang bagaimana manusia kembali kepada nilai-nilai dasar: kejujuran, keikhlasan, dan penghormatan terhadap sesama. Termasuk dalam memahami mana yang menjadi hak dan mana yang hanya harapan.

Ketika batas ini dilanggar, maka yang hilang bukan hanya etika sosial, tetapi juga esensi dari takwa itu sendiri. Sebab takwa tidak hanya diukur dari ibadah ritual, tetapi juga dari bagaimana seseorang menjaga sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya, Idul Fitri mengajarkan satu hal penting: bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari apa yang kita terima, tetapi dari bagaimana kita menjaga hati. Memberi tanpa pamrih adalah kemuliaan, dan tidak meminta adalah kehormatan.

Dan di titik itulah, Idul Fitri menemukan maknanya yang paling dalam, bukan sekadar hari kemenangan, tetapi hari di mana manusia belajar menjadi lebih manusia


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Keunikan 'If the Oceans Were Ink': Belajar Al-Qur'an Tanpa Sekat Donny Syofyan, Dosen Fakultas....

Suara Muhammadiyah

15 January 2025

Wawasan

Ramadhan sebagai  Sekolah Prososial Oleh: Gufron Amirullah, Dosen Uhamka/ Tenaga Ahli Wak....

Suara Muhammadiyah

27 March 2025

Wawasan

Implementasi 7 Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat Oleh: Wiguna Yuniarsih, Wakil Kepala SMK Muhamm....

Suara Muhammadiyah

5 February 2025

Wawasan

Mata Jahat: Antara Keyakinan dan Logika di Era Modern Oleh: Donny Syofyan: Dosen Fakultas Ilmu Buda....

Suara Muhammadiyah

5 March 2025

Wawasan

Raja Penentu Masa Depan: Tafsir Reflektif QS. Al-Fatihah [1]: 4 dan Relevansinya dengan Visi Kehidup....

Suara Muhammadiyah

10 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah