YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Setelah mengkaji Konsep Iman dalam Islam, lalu dilanjut dengan Konsep Akal Dalam Islam. Hal ini sesuai dengan tema Ramadhan 1446 H di UAD yaitu "Unifikasi Iman dan Akal". Kajian menjelang berbuka hari ke - 2 mengusung tema “Konsep Akal dalam Islam” yang berisi tentang bagaimana kaitan atau hubungan antara Iman dengan Akal dan disampaikan oleh Ust. M. Ridha Basri, S.Th.I., M.Ag., selaku pemateri yang merupakan Dosen AIK PGSD UAD serta Wartawan Madya Suara Muhammadiyah di Masjid Islamic center UAD Yogyakarta pada hari Ahad (2/03/2025). Kajian ini dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat.
Ridho menyampaikan pandangan dari seorang ulama yaitu Buya Hamka bahwa ada tiga kekuatan di dalam diri manusia. Pertama, Daya akal, dengan kekuatan ini membawa manusia kepada hakikat kebenaran (antara hak dan bathil). Kedua, Kekuatan Amarah, maksudnya membawa orang kepada kekuasaan, kemenangan, dan sombong. Ketiga, Kekuatan syahwat, yaitu mengajak orang untuk selalu memenuhi keinginan sehingga menjadikan orang itu lalai.
“karena itu, di bulan Ramadhan ini menjadi penting untuk mengendalikan syahwat dan marah, lalu menjadi sempurnalah kekuatan dari akal,” terangnya.
Di dalam al-Qur’an kata akal disebutkan sebanyak 49 kali. Dengan derivasi katanya seperti ‘aqala, na’qilu, ‘aqlun. Juga ada yang semisal ulul Albab, ulin Nuha, dengan makna yang hampir serupa. Kata "Aql" disebut berkaitan dengan keimanan pada empat belas ayat, diantaranya Q.S. Al-Baqarah ayat 76 dan 75,Hud ayat 51, Al-Anbiya 67.
Q.S. Al-Hadid ayat 17:
اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِي الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Artinya:
“Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya”
“Di ayat ini, Allah membuat permisalan bagaimana bumi ketika musim kemarau bisa kering ibarat mati, lalu Allah turunkan hujan dan menumbuhkan pepohonan, rumput yang tadinya kering menjadi hijau kembali. Allah menunjukkan bahwa hati manusia juga begitu, bisa kering dan cara menyiramnya dengan berdzikir” terangnya.
Kata Aql disandingkan dengan kitab suci disebut lima kali dalam al-Qur’an seperti Q.S. Yusuf ayat 2:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Artinya:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”
Lalu, kata ‘Aql disebutkan terkait tanda-tanda kekuasaan Allah. ada 6 ayat berbicara tentang hal itu. Kata ‘Aql juga berbicara tentang dinamika kehidupan manusia sehari-hari. Allah berfirman:
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
Artinya:
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Q.S. Al-Hajj: 46)
“Di ayat ini bukan mengabaikan orang difabel, tetapi Allah menunjukkan orang yang diberikan fisik yang lengkap tetapi tidak mengambil pelajaran hidup, mencermati alam semesta diibaratkan oleh yang difabel,” jelasnya.
Kata ‘Aql disebutkan sebanyak dua belas kali tentang alam semesta. Dengan hal ini, Allah mengajak untuk merenungi bagaimana penciptaan langit dan bumi, siang dan malam, dst. Kata ‘Aql juga berkaitan dengan kehidupan akhirat dan disebut dalam tiga ayat yaitu Al-Mulk ayat 10, Al-Baqarah ayat 32 dan Yunus ayat 16.
Ridha mengingatkan pada para jamaah bahwa dalam kehidupan ini tidak semuanya menggunakan akal adakalanya yang harus digunakan adalah hati. Akal itu senantiasa digunakan untuk mempertimbangkan untung rugi, cepat atau lambat, mudah atau sulit. Sedangkan, hati itu terkait dengan merasakan sesuatu seperti bagaimana mempertimbangkan yang baik dan yang buruk, yang tepat atau tidak dst. (giti/n)