Inovasi Frozen Food Ikan Lele, Desa Cakru Siapkan Brand Khas Lokal

Publish

28 August 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
502
Foto Istimewa

Foto Istimewa

JEMBER, Suara Muhammadiyah – Di tengah derasnya arus modernisasi dan persaingan usaha, Desa Cakru, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, tidak ingin hanya menjadi penonton. Desa yang selama ini dikenal dengan potensi perikanan lele, kini mulai menapaki jalan baru menuju desa kreatif dan mandiri.

Ikhtiar itu diwujudkan melalui program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Muhammadiyah Jember dengan tajuk “Strategi Pengembangan Budidaya Ikan Lele Melalui Usaha Oleh-oleh Aneka Frozen Food Khas Olahan Ikan Lele Siap Saji Sebagai Brand Keunikan Desa Cakru.” Program ini menjadi angin segar bagi warga, khususnya para pelaku budidaya ikan lele yang selama ini hanya mengandalkan penjualan dalam bentuk segar.

Program ini digagas oleh tim dosen UM Jember yang terdiri dari Pawestri Winahyu, S.Psi., MM. (ketua), bersama anggota Nely Ana Mufarida, S.T., M.T., dan Dr. Reni Umilasari, S.Pd., M.Si. Melalui program ini, masyarakat tidak lagi berhenti pada panen dan menjual ikan segar, tetapi diajak berpikir lebih jauh: bagaimana mengubah lele menjadi produk bernilai tambah.

“Lele tidak hanya bisa dijual mentah. Jika diolah menjadi produk siap saji seperti nugget, bakso, keripik, atau abon, maka nilainya akan lebih tinggi sekaligus tahan lama. Ini menjadi peluang usaha sekaligus brand khas Desa Cakru,” jelas Pawestri.

Pernyataan itu diamini oleh para petani lele. Selama ini, harga jual ikan lele kerap fluktuatif, terutama ketika panen raya. Akibatnya, keuntungan tidak selalu stabil. Dengan adanya inovasi frozen food, masyarakat memiliki alternatif baru untuk mengolah hasil panen sebelum dipasarkan.

Nely Ana Mufarida menekankan bahwa keberhasilan inovasi ini tidak hanya terletak pada kreativitas, tetapi juga teknologi tepat guna. Tim PkM memberikan pelatihan mulai dari cara memilih bahan baku, teknik pengolahan, pengemasan modern, hingga penerapan standar higienitas.

“Kami ingin produk olahan lele dari Desa Cakru bukan hanya sekadar enak, tapi juga sehat, aman, dan memenuhi standar pangan yang berlaku. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya membuat produk, tetapi juga belajar menjaga kualitas,” ujarnya.

Bagi warga, pendampingan ini menjadi pengalaman baru. Beberapa ibu rumah tangga yang selama ini hanya membantu suami di kolam lele, kini bisa ikut serta dalam proses produksi. “Kami diajari cara membuat nugget dan bakso lele. Rasanya enak sekali, anak-anak juga suka. Kalau ini bisa dipasarkan, pasti sangat membantu ekonomi keluarga,” ujar seorang ibu peserta pelatihan.

Branding dan Pemasaran Digital

Sementara itu, Dr. Reni Umilasari menegaskan pentingnya aspek pemasaran. Produk olahan lele, menurutnya, tidak cukup hanya berhenti di dapur produksi. Dibutuhkan strategi branding agar produk ini punya ciri khas dan mampu bersaing.

“Dengan kemasan menarik, branding yang kuat, serta pemanfaatan media sosial, produk olahan lele dari Desa Cakru bisa menembus pasar yang lebih luas. Bukan tidak mungkin, suatu saat bisa dikenal hingga luar Jember bahkan ke tingkat nasional,” terangnya penuh optimisme.

Strategi ini menjadi kunci. Di era digital saat ini, promosi melalui platform daring bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Generasi muda di Desa Cakru pun dilibatkan agar terlibat aktif dalam pemasaran melalui marketplace, media sosial, hingga penjualan berbasis komunitas.

Program ini disambut dengan penuh antusias oleh masyarakat Desa Cakru. Para petani, ibu rumah tangga, hingga pemuda desa ikut terlibat dalam pelatihan. Mereka melihat peluang besar dari inovasi ini.

Seorang tokoh masyarakat setempat menyampaikan apresiasinya. “Program ini sangat bermanfaat. Desa Cakru punya potensi besar di bidang perikanan. Jika lele bisa diolah dan menjadi oleh-oleh khas desa, tentu ini akan mengangkat nama desa sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga,” ujarnya.

Lebih dari sekadar program pelatihan, langkah ini menjadi titik awal Desa Cakru untuk meneguhkan diri sebagai desa berbasis ekonomi kreatif. Inovasi frozen food berbahan lele bukan hanya soal kuliner, tetapi juga tentang pemberdayaan masyarakat, kemandirian ekonomi, dan penciptaan identitas lokal.

Dengan semangat itu, Desa Cakru diharapkan dapat menjadi percontohan bagi desa-desa lain di Jember maupun di Indonesia. Sebagaimana semangat Islam berkemajuan, program ini menghadirkan dakwah pemberdayaan yang nyata: membangun kemandirian, menghidupkan potensi, serta menghadirkan manfaat luas bagi umat.

“Semoga Desa Cakru dapat menjadi desa unggul, mandiri, dan berdaya saing, sebagaimana cita-cita Muhammadiyah dalam membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya,” pungkas Pawestri. (KH)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat Prof Dr H A....

Suara Muhammadiyah

19 October 2023

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR PM) s....

Suara Muhammadiyah

3 February 2024

Berita

SUKOHARJO, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Pondok kembali menunjukkan ke....

Suara Muhammadiyah

17 March 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Mendorong semangat dan semangat kerja sama di antara jamaah dan war....

Suara Muhammadiyah

18 December 2023

Berita

TEMANGGUNG, Suara Muhammadiyah - Pondok Pesantren Al-Mu’min Muhammadiyah Tembarak (Almatera) T....

Suara Muhammadiyah

26 May 2024