YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Al-Qur'an sebagai Wahyu Allah mempunyai kebenaran absolut. Semisal menukil kata Ihsan, tersebut sebanyak 160 kali dalam Al-Qur'an.
"Oleh karena itu, Ihsan menjadi hal yang sangat penting itu kita mengerti dan harus menjadi rujukan life style atau gaya hidup manusia," tegas Budi Setiawan, Ketua MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Ihsan dikatakan Budi bermakna berbuat baik secara maksimal, ikhlas, dan indah, baik kepada Allah (ibadah) maupun makhluk.
"Ihsan adalah tingkat tertinggi dalam agama yang mencakup kesadaran diawasi Allah, berbakti, dan berbuat kebajikan, dengan jaminan cinta dan pahala Allah," jelasnya, Jumat (20/3) saat Khutbah Idul Fitri 1447 H di Lapangan Sepak Bola Kampus 4 UAD Yogyakarta.
Ihsan meniscayakan perbuatan yang tidak sekedar secukupnya atau biasanya atau juga sering disebut business as usual. Tetapi ihsan mensyaratkan tindakan atau upaya untuk selalu lebih baik, lebih bermanfaat dan lebih bermakna untuk kehidupan manusia.
"Oleh karena itu, pasca kita melaksanakan ibadah Ramadhan sebulan lamanya, maka ummat Islam harus bisa menjadi orang yang muhsinin, orang yang selalu berbuat Ihsan," tegasnya.
Menukil Qs Ali Imran; 134, sebut Budi, menjadi representasi dari semangat untuk lebih dekat kepada Allah, lebih dicintai oleh Allah SWT. "Adalah salah satu ciri Ihsan," ucap Budi.
Redaksi ayat itu menjadi bantalan Ihsan. Dalam pergaulan sehari-hari, Ihsan merupakan hal yang sangat dianjurkan seperti berbicara dengan sopan, maka akan tercipta komunikasi yang baik sehingga maksud tujuan pembaicaraan akan tercapai.
Berikutnya, memberikan sesuatu seperti yang dibutuhkan orang tersebut. Hal ini sangat penting, seperti dilakukan para relawan yang hadir ditempat kejadian bencana.
"Mereka akan melakukan assasment secara cepat, untuk dapat mengetahui data warga terdampak secara detil dan terpisah. Agar dapat diberikan bantuan seperti yang mereka butuhkan," jelasnya.
Tidak hanya itu saja. Ada juga contoh lainnya, yakni memberi maaf atau memaafkan. "Akan membuat hati menjadi longgar, karena tidak ada beban lagi," imbuh Budi.
Lainnya, bersikap secara tepat kepada para diffable. Jangan hanya sekadar kasihan, karena sesungguhnya mereka tetap berkemampuan asalkan mendapatkan fasilitas/alat bantu yang dibutuhkan.
"Menghormati atau bersikap secara proporsional kepada orang lain, apakah secara status sosial, usia atau posisi lainnya," bebernya. (Cris)
