Ide Membangun Gerakan Ekonomi Telah Dijalankan Sejak Zaman Kiai Dahlan

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
448
Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP. Foto: Pachrul

Prof Dr Muhadjir Effendy, MAP. Foto: Pachrul

BENGKULU, Suara Muhammadiyah – Usia Muhammadiyah telah mencapai 113 tahun. Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhadjir Effendy mengatakan, usia ini sangat panjang, namun justru tidak patah arang dalam menjalankan denyut nadi gerak dakwah di akar rumput.

“Tidak menunjukkan penurunan semangat bergerak dalam berdakwah, tapi justru makin masif menjalankan gerakan dan amal usaha yang dirintisnya,” katanya saat Resepsi Milad ke-113 Muhammadiyah di Aula Gedung Hasan Dien Kampus IV Universitas Muhammadiyah Bengkulu, Rabu (26/11).

Merespons miad Muhammadiyah yang tahun ini mengusung tema “Memajukan Kesejahteraan Bangsa”, sebut Muhadjir, tema ini diusung tidak sekonyong-konyong. Menurutnya, ide kesejahteraan itu merupakan akumulasi dari Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Makassar, Sulawesi Selatan tahun 2015.

“Muhammadiyah memutuskan di dalam Muktamar itu bahwa Muhammadiyah perlu menambah satu pilar lagi untuk dakwahnya. Di samping pilar pendidikan, pilar kesehatan, yaitu pilar ekonomi. Jadi itu sudah 10 tahun yang lalu diputuskan di Muktamar Makassar,” jelasnya.

Saat ini, sambung Muhadjir, pengejawantahan mandat dari Muktamar di Makassar tersebut sedang berlangsung, namun dinilai belum totalitas dan komprehensif. Hal ini ditengarai dunia ekonomi sudah lama ditinggalkan dari gerakan dakwah Muhammadiyah.

“Dulu Muhammadiyah awal justru dipelopori oleh ekonom, para pelaku usaha, dan pedagang. Kiai Dahlan itu saudagar batik, jadi kalau dakwah keliling ke daerah-daerah membawa contoh batik,” bebernya.

Bahkan, Kiai Dahlan menyiapkan salah satu puteranya Raden Haji Dhurie untuk menekuni dunia usaha, dan dikirim ke Eropa. “Jadi sekolah di sana, belajar bisnis,” katanya, yang setelah selesai sekolah, mendirikan pabrik sarung.

“Tapi sarung eksport, dijadikan untuk warga Muhammadiyah,” terangnya. Sarung tersebut, dikirim ke Myanmar dan Bangladesh. “Eksportir sarung,” tambahnya dengan singkat.

Di samping itu, juga menjadi importir sepeda. Di sinilah, Muhadjir menyimpulkan ide membangun ekonomi telah dimulai oleh Kiai Dahlan. “Sejak awal sudah memikirkan hal ekonomi,” tekannya.

Maka, saat ini, Muhammadiyah tengah melakukan revitalisasi untuk menguatkan kembali gerakan ekonomi. “Kalau sekarang ada naga 9, Muhammadiyah harus jadi naga 10,” tuturnya. Untuk itu, upaya ke arah situ sudah dimulai, sedikit dan bertahap, tapi sampai titik tujunya.

“Kita sedang merintis beberapa langkah, tapi memang tidak mudah karena sudah terlalu lama ditinggalkan,” ungkapnya. Dengan kata lain, sebut Muhadjir, gerakan ekonomi menjadi sebuah gerakan yang penting bagi Muhammadiyah saat ini.

“Kita akan memperkuat amal-amal usaha yang mempunyai potensi bisnis di dalamnya, baik pendidikan maupun kesehatan,” ujarnya, yang memproyeksikan, khususnya di sektor pendidikan menjadi titik sentral dari ekosistem ekonomi Muhammadiyah. “Karena itu harus membangun ekosistem,” tandasnya. (Cris)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Prodi Ekonomi Syariah UMY kembali mengukir prestasi gemilang ....

Suara Muhammadiyah

24 May 2024

Berita

Petugas medis KlinikMu Muhammadiyah Lhokseumawe memeriksa tekanan darah salah seorang jamaah di posk....

Suara Muhammadiyah

24 January 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Perempuan dan lelaki Islam itu masing-masing berhak berkemajuan dan be....

Suara Muhammadiyah

22 November 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Seperti di banyak acara perayaan atau jamuan makan. Meja dan ....

Suara Muhammadiyah

25 February 2025

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Pasar malam yang diadakan di sekitar kampus Universitas Muhamm....

Suara Muhammadiyah

29 February 2024