YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Setelah film documenter berdurasi kurang dari 50 menit itu selesai diputar, apresiasi datang dari para tamu undangan yang datang ke Amphitarium Museum Muhammadiyah (28/8). Sebagian besar bertepuk tangan. Tapi ada juga yang ingin meneteskan air mata tapi menahannya.
Selain menampilkan aspek edukasi tentang sejarah dakwah Muhammadiyah dan Aisyiyah, film garapan Yusron Fuadi itu juga berhasil mendekatkan realitas yang dihadapi kaum hawa di masa pra kemerdekaan dengan penonton.
Film ini mengangkat kisah seorang perempuan yang memiliki jejak perjuangan luar biasa dalam bidang dakwah, sosial hingga pendidikan. Namanya harum dan selalu dikenang dan memenuhi memori kolektif warga Persyarikatan. Perempuan itu adalah Siti Walidah, yang kisahnya berhasil memainkan emosi penonton.
Yusron Fuadi dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya atas apresiasi yang diberikan. Meski sudah minta untuk membuat film, tak disangka ia juga diminta untuk menyampaikan sambutan di hadapan penonton pada penayangan perdana. “Saya kira dengan membuat film sudah cukup, dan tidak perlu menjelaskan dengan kata-kata,” ucapnya sambil bercanda.
Menurut Ketua LBSO PP Aisyiyah, Wiwied Widyastuti mengatakan bahwa kuatnya sebuah negeri sangat bergantung pada bagaimana kondisi perempuan. Siti Walidah adalah representasi perempuan yang merdeka. Tokoh perempuan revolusioner yang menjadi pembuka gerbang zaman. Tentang bagaimana istri Kiai Dahlan tersebut mengajak dan memprovokasi kaum perempuan pribumi untuk berdaya melalui pendidikan yang memerdekakan.
Tak hanya menyajikan tentang historis kehidupan Siti Walidah membebaskan perempuan dari kubangan kebodohan, film ini tapi juga menyusuri jejak dakwah dan perjuangannya di Jawa Timur. Dengan memanfaatkan infrastuktur transportasi yang telah dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda, Ia berangkat dari kampung Kauman Yogyakarta menuju ke Bangil, Tosari, hingga ke Banyuwangi.
“Kami berani mengatakan bahwa banyak pembaharuan yang kami lakukan melalui film ini,” ujarnya.
Wiwied menjelaskan alasan tentang mengapa film documenter tersebut masih berstatus private screening, alias belum ditayangkan secara luas. Menurutnya film ini masih akan diikut sertakan dalam kompetisi film documenter. “Film ini akan kami ikut sertakan dalam kompetisi film documenter,” jelasnya.
Mengenai kapan film ini akan tayang secara komersil, Wiwied menjawab, paling tidak dalam waktu satu tahun ke depan, film documenter tersebut sudah dapat diakses melalui berbagai platform.
Siti Aisyah, Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah menyampaikan apresiasinya kepada LBSO PP Aisyiyah yang telah mampu mendokumentasikan peristiwa penting dalam sebuah film dan buku. Selama ini peristiwa penting di organisasi perempuan Islam ini hanya berkembang melalui tradisi lisan. Lambat laun tradisi lisan dapat terdistorsi jika tidak segera beradaptasi ke budaya tulis dan visual. Melalui film dan buku, jangkauan dakwah Aisyiyah akan meluas.
“Film ini sarat dengan nilai-nilai luhur dan utama. Jihad yang dilakukan oleh Aisyiyah melalui tokoh-tokohnya adalah jihad untuk melayani, bukan jihad perlawanan. Ini merupakan bagian dari dakwah kultural Aisyiyah untuk menamakan nilai keislaman dalam kehidupan,” pungkas Aisyah. (diko)