BANYUMAS, Suara Muhammadiyah – Wakil Direktur Program 1000 Cahaya, Sudarto M. Abukasim menegaskan bahwa isu efisiensi dan energi kerap dianggap kurang menarik jika hanya dilihat dari sisi proses yang dilakukan perorangan. Ia pun mengajak seluruh peserta Lokakarya dengan tema Efisiensi dan Transisi Energi Listrik di Lingkungan Pesantren untuk melihatnya melalui sudut pandang yang lebih luas dan kompleks, bagaimana jika isu ini dilihat dari sejumlah manusia yang besar dan memiliki kesadaran untuk berlaku efisien terhadap energi yang akan digunakan.
Selain itu, efisiensi bukan semata soal hadirnya teknologinya semata. Menurutnya, esensi mendasar dari efisiensi energi justru terletak pada perubahan perilaku manusia sebagai pengguna energi.
Ia menjelaskan bahwa efisiensi tidak boleh dimaknai sebatas penggunaan alat hemat energi atau inovasi teknologi terbaru. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap individu mulai membangun kesadaran dalam menggunakan energi secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.
"Efisiensi ini jangan dimaknai dari teknologinya, tapi dari bagaimana kita mulai dari perilaku kita sebagai pengguna energi," ujarnya di Aula Pondok Pesantren Modern Zam-Zam Muhammadiyah (28/2).
Lebih jauh, ia menyinggung bahwa banyak konflik dan perang yang terjadi di berbagai belahan dunia tidak lepas dari perebutan sumber energi. Hal tersebut menjadi pengingat bahwa energi merupakan isu strategis dan sangat menentukan stabilitas global yang berdampak signifikan kepada kehidupan masing-masing individu.
Karena itu, ia berharap pelatihan yang diselenggarakan ini tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan mampu menciptakan dampak domino yang luas, khususnya di lingkungan pesantren. Kesadaran yang tumbuh dari para peserta diharapkan dapat diteruskan dan diterapkan di lembaga masing-masing.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada LP2 Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang telah memberikan wadah dan ruang kolaborasi melalui kegiatan ini. "Kami ucapkan terima kasih kepada LP2 PP Muhammadiyah dan Pondok Pesantren Modern Zam-Zam yang telah memberikan wadah untuk terus belajar dan berkembang," ucapnya.
Menutup penyampaiannya, ia mengingatkan bahwa listrik dan bahan bakar minyak (BBM) merupakan kebutuhan vital yang tidak mungkin “diutang” dalam praktik sehari-hari. Namun di sisi lain, perusahaan penyedia energi seperti PLN dan Pertamina kerap mengalami defisit. Kondisi ini semakin menegaskan pentingnya kesadaran kolektif untuk menggunakan energi secara lebih efisien dan bertanggung jawab. (diko)

