Dari Kardus Jadi Wayang, Murid SD Muhammadiyah Nitikan Belajar Budaya

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
108
Dokumentasi oleh Wayang Merdeka

Dokumentasi oleh Wayang Merdeka

BANTUL, Suara Muhammadiyah – Sebanyak 105 murid kelas 4 SD Muhammadiyah Nitikan Yogyakarta mengikuti kegiatan outing class bertajuk “Kreasi Wayang Hebat: Belajar Budaya, Berkarya Ceria” di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (21/04). Kegiatan yang digelar dalam rangka mendukung pendekatan budaya daerah ini melibatkan lima rombongan belajar dan berkolaborasi dengan Komunitas Wayang Merdeka.

Kegiatan ini menjadi jembatan antara pembelajaran di kelas dan upaya pelestarian warisan budaya leluhur. Bukan sekadar kunjungan edukatif biasa, kegiatan ini merupakan implementasi pembelajaran kontekstual yang memadukan beberapa mata pelajaran sekaligus, mulai dari Seni Budaya, Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, PKn, hingga IPS.

Kepala SD Muhammadiyah Nitikan, Bapak Saleh Santosa, S.Si., M.Pd.I., menegaskan bahwa kegiatan ini berangkat dari visi sekolah dalam membentuk siswa yang berbudaya. “Tujuan utama membentuk karakter siswa yang berbudaya,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa budaya bukan hanya soal kesenian tradisional, melainkan juga tercermin dalam sikap disiplin dan tertib sehari-hari.

Pak Saleh juga menyebut bahwa kegiatan ini selaras dengan kurikulum kelas 4. Dalam pelajaran Seni Budaya, anak-anak mengenal teknik mewarnai atau sungging. Dalam Bahasa Jawa, mereka mengenal tokoh-tokoh pewayangan secara langsung, bukan hanya dari buku. Sedangkan dalam PKn dan IPS, pengenalan wayang menjadi salah satu cara nyata untuk memperkenalkan keberagaman budaya Indonesia.

“Menumbuhkan kecintaan anak terhadap budaya yang ada di Indonesia, khususnya di Yogyakarta, dalam hal ini wayang. Kemudian juga menumbuhkan jiwa kewirausahaan, anak-anak dapat tumbuh keinginan menghasilkan suatu karya yang ke depannya bernilai sosial dan ekonomi,” ungkap Pak Saleh. Ia menambahkan, kegiatan ini juga mempertemukan murid dari tiga kampus berbeda yakni, Al-Ishlah, Kampus 4, dan Giwangan sehingga menumbuhkan jiwa sosial dan kerja sama.

Rangkaian kegiatan hari itu terdiri dari dua agenda utama. Pertama, anak-anak mendapatkan pemaparan tentang tokoh-tokoh Pandawa dalam pewayangan yang disampaikan oleh Wahono, S.Sn., M.Hum., dosen Lintas Prodi dan PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Terakhir, mereka membuat wayang modern dari bahan kardus bekas. 

Pada sesi pembuatan wayang, anak-anak menggunakan kardus bekas yang mereka bawa dari rumah. Mereka dibebaskan menggambar karakter apa saja yang mereka sukai, ada yang memilih hewan, kartun, hingga tokoh superhero. Sebagian menggambar sendiri, sebagian lain menjiplak dari kertas bergambar karakter kesukaan mereka. Setelah digambar, karya diwarnai menggunakan spidol, krayon, dan alat pewarna lainnya, lalu ditempelkan ke kardus dengan bantuan Mas Lejar, seniman sekaligus dosen STSRD VISI (Sekolah Tinggi Seni Rupa dan Desain Visi).

Pendekatan kreatif ini bukan tanpa alasan. Miko Jatmiko, salah satu instruktur dari Komunitas Wayang Merdeka yang mendampingi anak-anak dalam proses pembuatan, menjelaskan filosofi di balik pilihan tersebut. “Ada tiga elemen yang penting. Pertama, the next generation. Yang kedua, kesadaran lingkungan. Yang ketiga adalah kreativitas. Dari sampah menjadi wayang, dari nothing menjadi something,” tuturnya.

Mas Miko, sapaan akrabnya, menekankan pentingnya mendekati anak-anak melalui dunia yang mereka kenal. “Melalui dunia mereka. Kalau mereka kita kasih wayang klasik, takut,” ujarnya sambil tersenyum. Ia percaya bahwa kebebasan memilih karakter adalah kunci agar anak-anak tidak takut pada wayang, melainkan justru jatuh cinta padanya. “Di usia yang sekian itu usia main-main. Jangan diatur dulu. Yang penting dia senang dulu dengan kata wayang itu,” tambahnya.

Kegiatan ini berlangsung di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja (PSBK), tempat yang sarat nilai seni dan sejarah. Didirikan sejak tahun 1978, padepokan ini merupakan warisan almarhum Bagong Kussudiardja. Ia adalah seorang penari, pelukis, dan komposer legendaris yang juga dikenal sebagai ayah dari seniman Butet Kartaredjasa. Luasnya halaman dan suasana artistik tempat ini menjadikannya ruang belajar yang ideal bagi ratusan murid.

Dengan perpaduan antara seni tradisional, kreativitas bebas, dan kepedulian lingkungan, kegiatan “Kreasi Wayang Hebat” ini diharapkan mampu menanamkan nilai karakter yang kuat pada diri anak terutama kecintaan terhadap budaya bangsa, keberanian berkarya, dan semangat kolaborasi. Sebuah langkah kecil yang barangkali akan menjadi kenangan besar dalam perjalanan tumbuh kembang mereka. (Naf)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

​YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Di tengah suasana penuh kemuliaan bulan suci Ramadhan 1447....

Suara Muhammadiyah

22 February 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) secara resmi menerima emp....

Suara Muhammadiyah

16 February 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Mungkin sudah eranya. Bahwa segala hal perlu penyegaran, tak terkec....

Suara Muhammadiyah

27 September 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora (FSH) Universitas Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

1 January 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pasca banjir yang melanda sejumlah wilayah di DKI Jakarta, Ketua....

Suara Muhammadiyah

9 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah