Bulan Syawal, Kans Meningkatkan Spirit Khadimul Ummah dan Khadimul Jam’iyyah

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
111
Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

BANTUL, Suara Muhammadiyah – Idul Fitri sebagai tanda berakhirnya bulan Ramadhan, telah dirayakan sedemikian rupa oleh umat Islam sejagat.

“Mudah-mudahan puasa dan Idul Fitri kita dengan seluruh amalan setelahnya diterima Allah SwT,” tutur Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Bersamaan dengan itu, secara khusus Haedar menyampaikan permohonan maaf yang menjadi permakluman sebagai manusia biasa. “Mungkin tidak mengenakkan hati. Itu jangan dikubur dalam-dalam,” tekannya.

Semua itu, katanya, sebagai bentuk menumbuhkan ghirah (semangat) dalam bermuhammadiyah dan beraisyiyah. “Yang lebih lagi (meningkat, red),” imbuhnya. “Kecepatan tiga kali lipat,” imbuhnya, meminjam pernyataan Ketua PP ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah DjohantinI.

“Jadi setelah Syawal, saya pacu lagi kecepatan enam kali lipat,” tekannya. Mengaksentuasikan konteks ini dengan dunia usaha, yang mesti ada penambahan spirit yang jauh lebih tinggi lagi.

“Pergerakan dunia usaha itu harus deret ukur, jangan deret tambah. Kalau deret tambah, ketinggalan dari yang lain,” tegas Haedar, Jumat (10/4) saat Silaturahmi Idul Fitri 1447 H bersama dengan kawan sekerja PP Muhammadiyah dan PP Aisyiyah di Peleman, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Bantul.

Meski terpisah dalam jarak kantor, tetapi bekerja dalam lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, meniscayakan satu entitas, satu jamaah. “Bahkan satu jam'iyyah, satu organisasi,” sebutnya.

Di sinilah, merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dengan apa pun. “Sehingga harus ada ikatan kolektif ya, ikatan kebersamaan,” menggarisbawahi betapa substansialnya kerja kolektif yang menyepadukan kekompakan bak satu bangunan kokoh.

“Kami harapkan karena kita ini semuanya berkhidmat sebagai khadimul ummah (pelayan umat), khadimul jam'iyyah (pelayan organisasi). Jadi tetap semangat, punya spirit tinggi, melayani yang terbaik,” bebernya.

Yang kemudian hal itu mesti disokong dengan etos berkemajuan. Variabelnya ada tiga, kata Haedar, meliputi, maju, profesional, modern. “Jadi harus semangat yang tinggi,” tambahnya.

Haedar berharap, mesti terkonstruksi suasana bekerja yang sarat dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Hal itu menjadi titik picu lahirnya inovasi dan etos kerja yang lebih tinggi lagi.

“Tetap bekerja dalam suasana yang gembira, tetap optimis bahwa hidup kita ini sekecil apa pun bermakna, yakni di hadapan Allah sebagai bakti kita untuk beribadah dan menjalankan fungsi kekhalifahan Allah,” tutup Haedar. (Cris)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Kunjungi Camp Peat KHDTK Tumbang Nusa PULANG PISAU, Suara Muhammadiyah - Mahasiswa Program Studi Ke....

Suara Muhammadiyah

27 June 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah -Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) semakin mengukuhkan perann....

Suara Muhammadiyah

3 August 2024

Berita

Yutuk Goreng, Cemilan Favorit Pengunjung Pantai Widarapayung CILACAP, Suara Muhammadiyah – Sa....

Suara Muhammadiyah

28 September 2025

Berita

ACEH TAMIANG, Suara Muhammadiyah — Upaya pemulihan layanan kesehatan pascabanjir di Kampung Te....

Suara Muhammadiyah

25 December 2025

Berita

BATANG, Suara Muhammadiyah - Musyawaran Ranting PRM Sodong, Wonotunggal, Batang, Jawa Tengah ya....

Suara Muhammadiyah

16 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah