Bukan Sekadar Wawancara, Ini Pengembaraan Penuh Makna

Publish

15 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
107
Jurnalis Suara Muhammadiyah Cristoffer Veron Purnomo mewawancarai Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Hilman Latief, MA., PhD di Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng Raya, Jakarta Pusat, Jumat (13/2/2026). Foto: Nadri

Jurnalis Suara Muhammadiyah Cristoffer Veron Purnomo mewawancarai Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Hilman Latief, MA., PhD di Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng Raya, Jakarta Pusat, Jumat (13/2/2026). Foto: Nadri

Saya beruntung, lebih-lebih utamanya bersyukur sekali garis orbit kehidupan dikonstruksi Tuhan sedemikian rupanya. Tak pernah tergoreskan dalam kanvas kehidupan, saya bisa menjelma menjadi jurnalis. Sebuah profesi yang benar-benar memberi kebermaknaan hidup nan menghunjam.

Lebih-lebih lagi, saya masuk di Suara Muhammadiyah. Sebuah media muktabar yang menjadi corong media Persyarikatan Muhammadiyah. Dilahirkan dari pemikiran genius Dahlan dan Fachroodin, Jumat ,13 Agustus 1915, menggembleng bak kawah candradimuka, menjadi manusia yang benar-benar melihat realitas kehidupan sesungguhnya.

Akumulasi itu terekam dari denyut nadi aktivitas seismik jurnalis. Sepanjang jalan membentang di Suara Muhammadiyah, menjalani aktivitas ini pada awalnya sarat kesangsian. Wajar saja, hidup saya bukan notabene jurnalis. Tapi, diberikan trust profesi ini, niscaya diejawantahkan sedemikian rupa.

Bukan untuk memaksakan diri melampaui tapal batas kemampuan yang ada, tapi lebih tepatnya, mencoba hal baru, untuk mendapatkan pengalaman seru dan berharga.

Banyak orang-orang baru saya dapatkan. Banyak perspektif baru yang temukan. Juga, banyak kejadian pusparagam yang terjadi di lapangan yang saya saksikan. Tidak lain, karena profesi ini, membuat saya mendapatkan semua itu. Syukur Alhamdulillah.

Bersamaan dengan Jumat, 13 Februari 2026 di Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng Raya, Jakarta Pusat. Bertepatan Pukul 23:10 WIB. Sesudah Pengajian Bulanan rampung. Saya secara khusus, menyempatkan wawancara dengan Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Hilman Latief, MA., PhD.

"Ayok mau wawancara di mana?" kata Hilman. "Saya ikut Prof saja, tempatnya di mana," sambung saya. "Di luar sini saja ya," sahut Hilman. "Boleh Prof," jawab saya lagi.

Wawancara itu berlangsung 25 menit di lantai 2, ruang outdoor. Sembari menyaksikan geliyat Jakarta dengan dinamikanya di malam hari.

Tentu saja, saya bangga bisa sampai ke Jakarta. Kota Batavia. Kota Metropolitan. Bukan tanpa sebab. Di samping isra yang jauh, 7 jam 16 menit dari Yogyakarta, tetapi terbayarkan bisa bersua dengan narasumber yang dituju. Dua narasumber yang saya jumpai--selain Hilman Latief--Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat Ahmad Imam Mujadid Rais, MIR.

"Bapak, mohon izin saya ingin melakukan wawancara dengan bapak," ucap saya. "Oh Boleh mas," katanya. Dari mana?" kata Rais. "Suara Muhammadiyah," jawab saya. "Oh mas Cristoffer bukan," celetuknya. "Betul bapak," sahut saya, seraya bergumam, "masih ingat saja beliau, padahal sudah lama sekali tidak berkorespondensi."

Dalam pertemuan usai ZiskaTalks Tarhib Ramadhan LAZISMU di Lantai 4 Gedung Dakwah Muhammadiyah Menteng Raya, Jakarta Pusat, Kamis (12/2)--sehari sebelum Pengajian Bulanan--saya melakukan wawancara membutuhkan pasokan durasi waktu 17 menit.

Durasi sangat pendek, yang biasanya melampaui dari itu. Namun demikian, saya tetap bersyukur dan bungah, mampu melakukan mandataris dari redaksi. Terpenting adalah itu.

Namun, ada hal paling substansial dari matarantai kegiatan wawancara dan peliputan di kota yang sarat kesemrawutan itu. Saya berkesempatan untuk bertandang ke sanak saudara yang telah menjadi kulit daging yang rekat, di mana sudah lama sekali tidak bersua. Karena terpisah dengan jarak nun jauh di sana.

Silaturahmi ini sangat penting. Terlebih-lebih lagi, sanak saudara saya ini baru saja selesai melakukan rangkaian operasi tumor otak. Sungguh betapa getir-pahit yang dialaminya, tak pelak rasa sakit yang mencengkramnya. Namun demikian, tampak daripadanya keikhlasan menerima takdir Ilahi ini.

Ikhtiar telah dilakukan sedemikian rupanya. Dan, Alhamdulillah, puji syukur, saudara saya bisa bugar kembali. Saya senang sekali ia bangkit dari cengkeraman rasa sakit yang begitu rupa itu. Di lain sisi, pun demikian. Keesokan harinya, saya juga dibentangkan jalan kesempatan Tuhan untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara di Bojonggede, Bogor, Jawa Barat.

Ia orang kelahiran Yogyakarta, tapi sudah lama bermukim di sana. Lebih-lebih, menjadi Anggota Resmi Muhammadiyah. Kini usianya sudah 83 tahun. Alhamdulillah masih sehat. Meski sudah tidak lagi paripurna kala muda. Ia menceritakan panjang lebar selama hidup di Kota Gudeg itu. Memorinya kuat sekali, nama-nama tersebut, barangkali sudah transit ke alam berikutnya.

Dua rangkaian silaturahmi itu ditemani oleh saudara saya, Fadhil. Tentu, tanpa ditemani olehnya, niscaya saya akan terpasah (nyasar). Wajar, karena bukan orang autentik sana.

Pada akhirnya, saya bersyukur sekali lagi, Alhamdulillah, saya diberikan kesempatan Tuhan untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara di tengah kegiatan peliputan di Metropolitan.

Karena itulah bagian integral dari Islam, yang menekankan pentingnya mempertautkan silaturahmi. Dan, inilah wawancara paling bermakna dalam hidup saya. (Cris) 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Milad ke-66 Oleh : ESu Setahun usiakudi atas usiamuaku lahir lima enamengkau didirikan lima tujuht....

Suara Muhammadiyah

18 November 2023

Humaniora

Oleh: Ahmad Azharuddin Menemukan kedamaian di dalam hati merupakan sebuah konsep yang sangat pentin....

Suara Muhammadiyah

20 March 2024

Humaniora

Melihat dari Dekat Negeri Tiongkok Melalui Provinsi Xinjiang dan Guangdong (2) Oleh: Ahmad Dahlan, ....

Suara Muhammadiyah

29 August 2024

Humaniora

SM Tower dan Semangat Pemberdayaan "Business is Business",  memang demikianlah ekosistem sebua....

Suara Muhammadiyah

15 October 2023

Humaniora

Latihan Instruktur Dasar, Milad IMM, dan Jas yang Tak Pernah Kupakai OLeh: dr Nurhira Abdul Kadir, ....

Suara Muhammadiyah

15 March 2025