Beramal dan Berusaha dalam Konteks Penguatan Semangat Islam Berkemajuan
Oleh: Sonny Zulhuda, Dosen International Islamic University Malaysia
Rumah Hamka Malaysia, Kuala Lumpur, Sabtu (10/1/2026), terasa hidup sejak pagi. Para pimpinan dan kader Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah dan Aisyiyah (PCIM-PCIA) Malaysia berkumpul dalam suasana hangat namun penuh kesungguhan mengikuti kegiatan Pembekalan PCIM–PCIA Malaysia dengan tema Islam Berkemajuan sebagai Pilar Gerakan Global Muhammadiyah di Malaysia.”
Kegiatan ini bukan sekadar forum penguatan organisasi, tetapi juga ruang refleksi bersama tentang arah dakwah Muhammadiyah di luar negeri, khususnya di Malaysia, yang kian strategis.
Hadir sebagai pembicara utama, Dr. H. Agung Danarto, M.Ag., Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Organisasi, Ideologi, Kaderisasi, dan Pembinaan Angkatan Muda Muhammadiyah, menyampaikan pesan yang lugas sekaligus menggugah.
Ia menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah tidak berhenti pada aktivitas mimbar ke mimbar. Dakwah adalah kerja menyeluruh dan profesional, yang hadir melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi, hingga tata kelola organisasi. “Muballigh Muhammadiyah bukan hanya yang pandai bicara, tetapi yang mampu menghadirkan solusi,” ujarnya.
Dalam konteks itu, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) mendapat sorotan penting. Menurut Dr. Agung, AUM merupakan instrumen dakwah sekaligus sarana kaderisasi, yang karena itu harus dikelola secara profesional dan amanah. Mengelola universitas, sekolah, rumah sakit, hingga tanah wakaf—yang luasnya puluhan bahkan ratusan hektare—bukanlah pekerjaan ringan. Namun justru di sanalah letak keistimewaan Muhammadiyah: AUM bukan milik individu atau kelompok tertentu, melainkan milik Persyarikatan dan siap menopang perjuangan Pimpinan kapan pun dibutuhkan. Agung mengajak PCIM Malaysia untuk lebih terlibat dan berkontribusi, agar AUM Muhammadiyah semakin kuat dan mandiri.
Lebih jauh, Dr. Agung mengingatkan bahwa seluruh AUM harus berjalan di atas tata nilai Islam Berkemajuan—Islam yang berakar pada tauhid yang menggerakkan dan melahirkan manusia berjiwa "rahmatan lil ‘alamin", menjalankan ibadah sekaligus peran kekhalifahan, serta menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
Muhammadiyah, kata dia, sering dipandang dunia luar sebagai organisasi keagamaan yang sukses secara religius dan sosial. Penilaian itu adalah amanah sekaligus tantangan, terutama dalam hal tata kelola, persepsi publik, dan keberlanjutan pendanaan. Karena itu, pembinaan, pengawasan, dan audit AUM harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Pembekalan ini pun ditutup dengan penguatan kembali tujuan luhur Muhammadiyah: membangun masyarakat adil, makmur, dan sejahtera— "baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur" —serta mengantarkan warganya menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Dari Rumah Hamka Malaysia, semangat itu diteguhkan kembali. Bahwa di mana pun Muhammadiyah berada, termasuk di Malaysia, Islam Berkemajuan akan terus menjadi napas gerakan: membumi, mencerahkan, dan memberi manfaat seluas-luasnya bagi umat dan kemanusiaan.

