JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tradisi literasi dalam Islam bukan sekadar membaca teks, melainkan sebuah metodologi membangun peradaban. Hal tersebut mengemuka dalam Kajian Daring Ramadan (Kadar) Sesi 4 yang digelar via Zoom pada Selasa, 18 Maret 2025.
Menghadirkan narasumber Ust. Nur Fajri Romadhon, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Kota Depok sekaligus pegiat dakwah, kajian ini mengusung tema spesifik mengenai cara para ulama klasik berinteraksi dengan buku. Acara dipandu oleh Dayat Wijanarko selaku moderator.
Dalam paparannya, Ust. Nur Fajri menekankan bahwa Ramadan adalah bulan literasi, mengingat ayat pertama yang turun adalah perintah membaca (Iqra). Ia mengingatkan agar semangat membaca tidak berhenti saat Ramadan usai. Beliau membedah metodologi Al-Tadrij atau membaca secara berjenjang. Mengutip Ibnu Khaldun, ia menyarankan pembelajar memulai dari buku-buku tipis untuk mendapatkan gambaran umum (grand scheme) sebelum masuk ke kitab-kitab tebal yang detail.
Selain teknis, Ust. Nur Fajri juga menyoroti aspek psikologis literasi melalui kisah Ibnu Taimiyah yang tetap membaca buku meski dalam kondisi sakit. Baginya, kegembiraan menemukan ilmu baru menjadi mood booster alami. "Jiwa itu kalau senang akan menguat, sehingga membantu penyembuhan," tuturnya mengisahkan dialog Ibnu Taimiyah dengan dokternya.
Terkait adab, Ust. Nur Fajri mengingatkan audiens untuk menghormati fisik buku, seperti tidak melipat ujung halaman atau menyelipkan pembatas yang tebal karena dapat merusak jilidan. Ia juga menyarankan teknik mencatat di pinggir halaman (hamisy) dengan tulisan miring ke atas agar tidak bercampur dengan teks asli.
Sebagai penutup, ia membagikan tips Tahshil Tasnifi, yaitu metode belajar sambil menulis, sebagaimana yang dipraktikkan tokoh besar seperti Buya Hamka dan Tengku Hasbi Ash-Shiddieqy. "Membaca satu buku tiga kali lebih baik daripada membaca tiga buku masing-masing sekali," pungkasnya.
Ahmad Soleh, pendiri Penerbit Irfani sekaligus penyelenggara, mengungkapkan bahwa pertemuan kali ini merupakan sesi pamungkas dari empat rangkaian kajian KADAR tahun ini. Tiga pertemuan sebelumnya telah membedah topik seputar penulisan buku, komunitas literasi, hingga literasi bagi perempuan. Menurutnya, materi yang dibawakan Ust. Nur Fajri menjadi pelengkap sekaligus penguatan fundamental bagi seluruh sesi sebelumnya.
"Kendati masih terdapat banyak kekurangan, kami menghaturkan terima kasih kepada narasumber, moderator, dan para peserta yang sangat antusias. Semoga tahun depan KADAR kembali hadir dengan sesi yang lebih banyak sebagai amunisi kita untuk tetap berkarya selama Ramadan," ujar Ahmad Soleh.
