GRESIK, Suara Muhammadiyah — Tumpukan plastik yang selama ini dianggap tak bernilai di Desa Dungus, Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Kelompok 32 Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) ditransformasi "Eco Paving Block" material bangunan ramah lingkungan yang kuat dan bernilai ekonomis.
Bertempat di Balai Desa Dungus, inovasi ini lahir dari kegelisahan terhadap krisis sampah plastik yang sulit terurai dan terus menumpuk di tempat pembuangan akhir. Melalui pendekatan teknologi tepat guna, mahasiswa meramu komposisi 60 persen plastik, 30 persen oli bekas, dan 10 persen pasir. Hasilnya, paving block yang lebih ringan, tahan cuaca, tidak mudah pecah, serta anti lumut.
Ketua KKN Kelompok 32, Fauzan Eksando, mengungkapkan bahwa proses produksi satu buah paving memakan waktu sekitar 45 menit. “Setiap satu paving mampu menyerap sekitar 0,75 kilogram sampah plastik. Kami menggunakan cetakan presisi agar ukurannya identik dengan paving beton pada umumnya,” jelasnya, Ahad (22/2).
Lebih dari sekadar eksperimen, program ini dirancang sebagai solusi berkelanjutan. Dari sisi teknis, produk masih terus dikembangkan agar semakin kuat dan efisien dalam proses produksi. Namun secara konsep, inovasi ini telah membuktikan bahwa limbah dapat menjadi sumber daya baru.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Yanuar Pandu Negoro menegaskan, program ini selaras dengan pendekatan "Circular Supply Chain". “Kami mendorong mahasiswa melihat limbah sebagai bagian dari ekonomi sirkular. Eco Paving ini merupakan hilirisasi riset ke masyarakat yang memiliki nilai keberlanjutan tinggi, baik lingkungan maupun potensi ekonomi desa,” ujarnya.
Antusiasme juga datang dari pemuda setempat. Rifan Hakiki, perwakilan Karang Taruna Desa Dungus, menyatakan kesiapan mereka untuk melanjutkan inovasi tersebut. “Program ini relevan dengan kondisi lingkungan saat ini. Kami siap berkolaborasi agar eco paving block benar-benar diterapkan di desa,” tandasnya. (Azhar)

