Asta Cita, Sistem Ekonomi, dan Falsafah Ideologi Bangsa yang Terancam

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
80
Ilustrasi

Ilustrasi

Asta Cita, Sistem Ekonomi, dan Falsafah Ideologi Bangsa yang Terancam 

Oleh: Buya Anwar Abbas

Salah satu Asta Cita yang digariskan Prabowo dalam mengurus bangsa dan negara ini adalah memperkuat idiologi Pancasila. Untuk itu sebagai insan pancasilais, tentu saja Prabowo sangat berharap agar nilai-nilai Pancasila bisa tegak dalam berbagai bidang kehidupan bangsa termasuk tentunya dalam bidang ekonomi. 

Dalam bidang ekonomi kita mengenal 2 sistem ekonomi yang sangat besar pengaruhnya yaitu sistem ekonomi sosialisme (SES) dan liberalisme kapitalisme (SELK). SELK menyerahkan penyelesaian masalah ekonomi kepada mekanisme pasar sementara SES kepada negara. Kedua-dua sistem ekonomi tersebut dipengaruhi oleh faham atau idiologi sekulerisme dan atau atheisme yang menuntut pemisahan antara urusan agama dengan institusi negara, pemerintahan, dan ruang publik. 

Hal tersebut tentu jelas tidak sejalan dengan faham dan idiologi yang kita miliki yaitu pancasila dimana sila pertamanya, Ketuhanan Yang Maha Esa. Jadi meskipun negara kita bukan negara agama tetapi negara dan bangsa kita sangat menghormati agama bahkan dalam pasal 29 ayat 1 dan 2 UUD 1945 dikatakan:  ayat 1. Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Ayat 2.  Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu. 

Jadi dari pasal 29 ayat 1 dan 2 tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem ekonomi  yang ingin kita bangun bukanlah sistem ekonomi liberalisme kapitalisme dan juga bukan sistem ekonomi sosialisme, tapi sebuah sistem ekonomi yang dituntun oleh nilai-nilai dari ajaran agama apakah itu agama islam, kristen, katolik, hindu, budha dan konghucu atau  6 agama yang diakui oleh negara di negeri ini. Sistem ekonomi yang seperti itu disebut oleh Bung Hatta dengan istilah sistem ekonomi sosialisme versi indonesia. Oleh Sri Edi Swasono disebut dengan sistem ekonomi sosialisme religious dan oleh Mubyarto disebut dengan sistem ekonomi Pancasila. 

Oleh karena itu menegakkan dan memperjuangkan sistem ekonomi pancasila atau sistem ekonomi yang berketuhanan di negeri ini jelas merupakan kewajiban kita bersama terutama  pemerintah dan para politisinya karena hal tersebut  merupakan amanat dari konstitusi dimana perwujudannya telah dijelaskan dalam pasal 33 dan 34 UUD 1945. Dalam pasal 33 ayat 1 dikatakan, Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. 

Dalam ayat 2, Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. Ayat 3, Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Ayat 4, Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Di dalam pasal 34 dikatakan: (1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. (2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan. Jadi bila kita fahami konsep dan sistem ekonomi yang digariskan oleh konstitusi lalu kita lihat fakta dan realitas yang ada di tengah-tengah kehidupan ekonomi yang kitajalani dapat disimpulkan bahwa sistem ekonomi kita sekarang ini sangat kental diwarnai oleh sistem ekonomi liberalisme kapitalisme bukan oleh sistem ekonomi pancasila. 

Jadi dari data dan fakta tersebut kita melihat bahwa falsafah dan idiologi bangsa kita dalam bidang ekonomi telah diciderai dan diracuni   oleh falsafah dan idiologi liberalisme kapitalisme. Bila itu yang terjadi maka berarti identitas dan jati diri kita sebagai bangsa akan terancam. Oleh karena itu peran Prabowo sebagai Presiden untuk menjaga falsafah dan idiologi bangsa tersebut tentu saja sangat dituntut dan diharapkan walau kita sadar kendala dan rintangan yang dihadapinya sangat besar. Disinilah kita lihat letak arti pentingnya kita bersatu lalu secara bersama-sama menghadapi tantangan yang ada agar zaman keemasan Indonesia yang sama-sama kita cita-citakan dan dambakan akan bisa terwujud. Semoga. 

Buya Anwar Abbas, Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Sulthanan-Nashira sebagai Pakaian Politik Islam Oleh: Adrian Al-fatih, Kader Muhammadiyah Sulthana....

Suara Muhammadiyah

22 December 2023

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Mari kita telusuri kisah menakj....

Suara Muhammadiyah

13 September 2024

Wawasan

Ketulusan: Pondasi Kokoh Menuju Kedamaian Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta  Ketulus....

Suara Muhammadiyah

28 January 2025

Wawasan

Oleh: Prof Dr Dadang Kahmad, MSi Saya membuka kitab “Hadits Arbain” sebuah buku kumpula....

Suara Muhammadiyah

15 December 2025

Wawasan

Dakwah Menjawab Jiwa Zaman: Belajar Dari KH Ahmad Dahlan Keharusan Peta Dakwah Oleh: Saidun Derani....

Suara Muhammadiyah

7 February 2024