Amin Abdullah: Darul Arqam Muhammadiyah Cece Harus Cetak Santri Berkarakter

Publish

12 May 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

1
844
Foto Istimewa

Foto Istimewa

ENREKANG, Suara Muhammadiyah - Perubahan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) menuntut lembaga pendidikan Islam, termasuk pesantren, untuk terus beradaptasi. Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Pemikiran Islam Prof Amin Abdullah saat memberikan motivasi kepada santri di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Cece, Enrekang, Ahad, 11 Mei 2025.

Dalam orasi bertajuk “Tantangan Pesantren Abad ke-21”, Prof Amin Abdullah menekankan pentingnya pembaruan strategi pendidikan di pesantren agar tidak sekadar mencetak penghafal teks keagamaan, melainkan juga membentuk karakter dan kepekaan nurani.

“Kalau sudah banyak hafal teks-teks agama, tapi hati nurani tumpul, maka masa depan akan pesimis,” ujarnya di hadapan ratusan santri, asatidz, dan pimpinan pesantren di Masjid Istiqomah Pebu, kompleks Darul Arqam Muhammadiyah Cece.

Prof Amin Abdullah yang juga anggota Dewan Pengarah BPIP dan mantan Rektor UIN Sunan Kalijaga itu memaparkan tiga tantangan utama yang dihadapi pesantren masa kini. Pertama, budaya digital yang mengubah cara belajar dan memengaruhi karakter generasi muda. Kedua, peran guru yang kini harus menyesuaikan diri dengan perkembangan AI. Ketiga, lemahnya ketahanan mental generasi digital yang lebih rentan secara emosional.

Meski demikian, Prof Amin menyatakan optimisme bahwa pesantren tetap bisa bertahan jika mampu melakukan tiga hal penting. Pertama, mempertahankan dan mengembangkan pendidikan karakter melalui disiplin khas kehidupan pesantren. Kedua, melakukan inovasi pembelajaran yang mempertimbangkan kebutuhan psikologis santri. Ketiga, menjadikan pengasahan hati nurani (qalbun salim) sebagai orientasi utama pendidikan, bukan sekadar hafalan.

Dalam kesempatan tersebut, Prof Amin juga membagikan kisah masa mudanya yang penuh perjuangan. Ia menjalani pendidikan pesantren selama 11 tahun di Gontor, dari tingkat MTs hingga D3, sembari mengabdi. Kemudian ia melanjutkan studi S2 dan S3 selama enam tahun di Turki dalam sistem asrama. “Selama 17 tahun hidup saya di asrama. Dari situ saya tahu kekuatan karakter yang dibentuk di pesantren,” tuturnya.

Kegiatan motivasi ini menjadi bagian dari upaya pesantren untuk memperkuat wawasan dan semangat para santri menghadapi tantangan global, tanpa kehilangan identitas dan misi pendidikan Islam yang berkemajuan.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MALAYSIA, Suara Muhammadiyah – Rektor Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM), Dr H Saidul Ami....

Suara Muhammadiyah

9 May 2025

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah –  Dakwah Muhammadiyah itu persuasif dan solutif dengan mengamb....

Suara Muhammadiyah

27 September 2023

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung resmi menutup rangkaian ke....

Suara Muhammadiyah

28 September 2025

Berita

Dalam rangka Milad Ke-27 Tahun, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

22 June 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Kiprah Muhammadiyah untuk tanah Papua selalu menyajikan kisah....

Suara Muhammadiyah

17 March 2024