PADANG, Suara Muhammadiyah – Suasana Masjid Nurul Yaqin Muhammadiyah Padang berubah menjadi lautan haru sekaligus semangat membara, Sabtu (11/4/2026). Di tengah perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 H yang masih menjadi perbincangan publik, PW Aisyiyah Sumbar justru muncul dengan pernyataan tegas dan mengejutkan. Bukan untuk memperdebatkan perbedaan, melainkan untuk mengingatkan satu kewajiban fundamental bagi seluruh warga persyarikatan.
Dalam Silaturahmi Syawal yang dihadiri para pimpinan Aisyiyah, unsur Amal Usaha, PD Aisyiyah Kota Padang, hingga tamu undangan lainnya, PW Aisyiyah Sumbar dengan lantang menyampaikan pesan yang langsung menghentak ruang: Setiap warga persyarikatan wajib menghormati dan menjalankan ketetapan Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengenai 1 Syawal, awal Ramadhan, dan 10 Zulhijjah.
Dr. Syuraini, dalam sambutannya yang penuh keyakinan, mengawali dengan ajakan saling menghargai perbedaan. "Silaturahmi ini adalah ajang untuk saling menghargai perbedaan penetapan 1 Syawal," ujarnya. Namun seketika ia menegaskan bahwa di tubuh Muhammadiyah, keputusan pimpinan adalah panglima. "Kita semua, apapun posisinya, harus menghormati dan menjalankan ketetapan PP Muhammadiyah. Bukan hanya untuk 1 Syawal, tetapi juga untuk awal Ramadhan dan 10 Zulhijjah."
Seruan itu disambut anggukan khidmat para hadirin. Dr. Syuraini melanjutkan dengan mengingatkan bahwa tugas persyarikatan masih sangat banyak. "Kita masih separuh jalan," tegasnya. Ia mengajak seluruh elemen untuk mengubah energi positif Syawal menjadi percepatan gerakan, dengan kerja sama yang erat. "Jangan berdiri sendiri. Kerja sama memupuk efektivitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan."
Sementara itu, narasumber utama, Dr. Fitri Naili (Ketua MPK PW Aisyiyah Sumbar), memperkuat pesan tersebut. Dalam tausiyahnya, ia dengan gamblang menyampaikan bahwa warga Aisyiyah-Muhammadiyah wajib taat pada setiap keputusan pimpinan persyarikatan, termasuk soal hisab yang telah ditetapkan secara ilmiah dan berjamaah.
"Bukan hanya soal 1 Syawal. Awal Ramadhan, 10 Zulhijjah, semuanya sudah diatur oleh PP Muhammadiyah melalui metode hisab yang konsisten. Sebagai warga persyarikatan, sikap kita adalah hormat dan jalankan. Itu bentuk ketaatan dan ukhuwah kita," ujar Dr. Fitri Naili dengan penuh wibawa.
Ia juga menekankan bahwa Ramadan mengajarkan tawadhu dan optimisme. "Sesulit apa pun kondisinya, orang beriman harus yakin pertolongan Allah akan datang. Namun keyakinan itu harus dibarengi dengan kepatuhan pada keputusan bersama dalam persyarikatan." Lebih jauh, ia mengajak seluruh anggota untuk membumikan Al-Islam Kemuhammadiyahan sebagai jati diri, serta mulai beradaptasi dengan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai bentuk persatuan umat Islam nasional dan dunia.
Pesan menguat ketika Wakil Ketua PWM Sumbar, Hendri Novigator, yang hadir dalam acara tersebut, memberikan apresiasi luar biasa. "Kegiatan ini sangat bermanfaat, apalagi narasumber dari PW Aisyiyah Muhammadiyah. Kita bisa saling mengenal, bertukar pengalaman, dan yang terpenting, mendapatkan penegasan bahwa keputusan pimpinan wajib kita hormati dan laksanakan," ujarnya.
Hadir pula para pimpinan amal usaha seperti Direktur RSU Aisyiyah Padang dr. Silvana, Direktur Politeknik Aisyiyah Sumbar Ns. Jeki, serta Ketua PCM Bungus Enmar Anhar. Mereka sepakat bahwa silaturahmi seperti ini adalah fondasi untuk memajukan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sesuai kearifan lokal, tanpa keluar dari koridor keputusan persyarikatan.
Inti pesan PW Aisyiyah Sumbar kali ini sangat jelas: Perbedaan penetapan tanggal di masyarakat boleh terjadi, tetapi di lingkungan persyarikatan, ketaatan pada ketetapan PP Muhammadiyah adalah harga mati. Sebagaimana ayat yang ditegaskan, "Innamal mu'minuna ikhwatun" – sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Dan persaudaraan sejati dibangun di atas kepatuhan pada aturan bersama.
