Agar Tidak Terkesan Kaku, Dakwah Perlu Dibingkai dengan Sentuhan Sastra

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
702
Dr KH Tafsir, MAg saat menyampaikan Pengajian Ahad Kliwon di Tabligh Institute. Foto: Cris

Dr KH Tafsir, MAg saat menyampaikan Pengajian Ahad Kliwon di Tabligh Institute. Foto: Cris

BANTUL, Suara Muhammadiyah - Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menghadirkan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Tafsir, dalam Pengajian Ahad Kliwon di Tabligh Institute, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Ahad (5/10).

Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah Fathurrahman Kamal menyampaikan terima kasih atas kehadiran Tasfir dalam pengajian kali ini. "Ahlan wa Sahlan, sugeng rawuh (selamat datang) Kiai di Tabligh Institute," ujarnya.

Fathurr menyebut, sosok Tafsir sebagai salah satu penasehat spiritual. “Beliau selalu membersamai kami di Majelis Tabligh PP Muhammadiyah,” ungkapnya.

Ditambahkan Fathurr, Tafsir dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah yang senantiasa mengajarkan tentang kearifan dalam berdakwah. Baginya, dakwah tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi harus disertai keteladanan, kebijaksanaan, dan kasih sayang sehingga dapat menumbuhkan persaudaraan.

“Ukhuwah (persaudaraan) itu tidak hanya sekadar dipidatokan. Ukhuwah itu dilakoni (dijalankan) dan dicontohkan,” katanya, seraya mengharapkan dengan adanya koalisi antara Santri Krapyak dengan Santri Madrasah Mua’llimin dalam konteks dakwah lewat pendekatan sastra, seni, dan budaya.

“Itu saya kira satu contoh yang sangat bagus,” ucapnya.

Seturut dengan itu, Tafsir mengatakan, perlunya menghadirkan pendekatan sastra sebagai bagian dari upaya menghadirkan dakwah sekaligus membangun peradaban dan kebudayaan manusia. “Kita tidak punya karya benda, punyanya karya non-benda berupa syair-syair,” tuturnya.

Pada titik inilah, pendekatan sastra perlu ditempatkan secara proporsional dalam denyut nadi gerak dakwah dan kebudayaan. “Bahwa ini karya sastra. Maka dibaca, diapresiasi pada konteks sebuah karya sastra,” sambungnya.

Sebab, di sanalah tersimpan sumber kekuatan umat Islam dalam menciptakan transformasi kebudayaan sesuai dengan aspirasi baru yang relevan. Tapi mengakar pada sumber otentik ajaran agama.

“Maka, tempatkan sebagai karya sastra. Aspirasnya sastra, sebagai karya sastra dan karya seni. Bukan untuk disakralkan, bukan untuk ritual yang sakral, tetapi untuk sebuah festival. Jadi kita ubah, dari sakral menjadi festival,” jelasnya.

Dalam konteks ini, Tafsir menilai bahwa sastra dan budaya yang tumbuh di masyarakat tidak dihapus, tetapi dapat dijadikan festival rakyat atau wadah yang menjadikan masyarakat bergembira membangun kebersamaan dengan kreativitas budaya yang diciptakannya. (Cris)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Pro....

Suara Muhammadiyah

30 May 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah — Sivitas Akademika Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar m....

Suara Muhammadiyah

4 March 2026

Berita

Diikuti 153 Anak Yatim dan Dhuafa JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pagi itu, suasana Auditorium KH Ahm....

Suara Muhammadiyah

30 December 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sudah menjadi suatu keharusan bagi warga Persyarikatan Muhamm....

Suara Muhammadiyah

18 September 2023

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Presiden Prabowo Subianto memberikan Penganugerahan Tanda Kehorm....

Suara Muhammadiyah

25 August 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah